suplemenGKI.com

Ayub 23 : 1-9, 16-17, Mazmur 90 : 12-17, Ibrani 4 : 12-16, Markus 10: 17-31

Ketika gempa di Jawa Barat baru-baru ini belum genap jari terhitung, belum kering rasanya air mata terhapus, kita disentakkan dengan gempa yang jauh lebih besar yang jauh lebih dahsyat, yang memporak porandakan Sumatera Barat, khususnya daerah Padang, Pariaman dan sekitarnya. Kemudian dilengkapi dengan  gempa susulan yang mengguncang Jambi dan sekitarnya. Kejadian-kejadian yang berlangsung hanya sekitar 5 menit itu menelan ribuan jiwa meninggal, mengubur bersamanya impian-impian masa depan yang sebelumnya telah direnda dan disusun. Musnah bersama timbunan puing-puing hati yang menjerit mereka yang kehilangan sanak saudara, orangtua, anak yang terkasih. Hasil jerih lelah bertahun2 yang dibangun, musnah rata dengan tanah menjadi seonggok batu berserakan bertabur debu, atap perteduhan panas dan hujan itu telah hilang. Dalam sekejap.
Mau kemana kita?
Kita ada dan hidup bukanlah pilihan. Sejatinya kita ada, hidup dan hadir disini adalah semata-mata karena kehendakNya. Hak yang diberikanNya kepada kita adalah sebuah kebebasan untuk memilih, dimana kita akan melekatkan hati kita, kepada Tuhan atau kepada dunia. Kepada hidup kekal atau kepada kekayaan semu. Tuhan Yesus sendiri mengatakan,”Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah”
Tentu saja pokok permasalahnya bukan pada uangnya tetapi kepada hati yang melekat padanyalah yang membuat pintu Kerajaan Allah sulit terbuka.
Didunia ini mana ada yang kekal, cepat atau lambat, siap atau tidak siap, semuanya akan berakhir. Beberapa hari setelah gempa besar tersebut seorang ahli geologi mengingatkan Jawa Timur dan Bali untuk mulai waspada gempa. Kapan waktunya, apakah lebih kecil ataukah lebih besar, tidak ada yang pernah tahu. Namun mungkin yang lebih penting kita perhatikan bukanlah penuturan ahli geologi tersebut namun penuturan pemazmur yang mengatakan “Ajarlah kami menghitung hari-hari sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”
Bijaksana dalam menentukan kemana hati kita akan kita lekatkan, bukan dihadapan manusia tetapi dihadapan Tuhan karena “Tidak ada suatu makluk pun yang tersembunyi dihadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mana Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” Jangan salah pilih. (Anp)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*