suplemenGKI.com

Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yohanes 14:23).

Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!” Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana (Kisah Para Rasul 16:9-10).

Dewasa ini “ketaatan” bukanlah sebuah istilah yang populer di negeri yang kita cintai ini. Perhatikan saja bagaimana orang dengan mudahnya melanggar peraturan dan rambu-rambu lalu lintas. Tata tertib atau peraturan dibuat untuk dilanggar, demikian cemooh yang sering kita dengar. Undang-undang anti korupsi sudah dibuat, bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi sudah kerap “menangkap basah” para koruptor dan merekapun harus berada di balik jeruji penjara, namun toh orang tak juga jera untuk melakukan korupsi.

Jika ketaatan tidak populer di luar sana, bagaimana dengan kehidupan orang percaya? Apakah kita hanya sekedar membaca dan mempelajari Firman Tuhan tetapi tidak mentaatinya? Jika Yohanes mencatat kalimat-kalimat Tuhan Yesus berkenaan dengan hal ini hingga dua kali, yakni pada ayat 21 dan kemudian diulangi kembali, serupa dengan itu, pada ayat 23, maka niscaya pesan ini merupakan peringatan yang sangat penting dan sekaligus rentan untuk diabaikan. Penting, karena firmanNya ini dikaitkan dengan ukuran kasih kita kepadaNya. Rentan diabaikan karena sebenarnya kita kurang sungguh-sungguh mengasihiNya.

Apakah kita secara pribadi maupun bersama sebagai gereja telah sungguh-sungguh mengasihiNya sehingga kita mau belajar dan berupaya untuk semakin “peka” terhadap “suara”Nya? Jika FirmanNya jelas mengatakan: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku …” (Matius 28:19a), apakah kita mau mentaatiNya. Jika Rasul Paulus yang melihat dan mendengar panggilan orang Makedonia segera meresponinya dengan melihatnya sebagai panggilan Allah, apakah kita sebagai gereja telah melakukan hal yang sama ketika mendengar panggilanNya untuk keluar dan melayani? Ataukah kita malah sibuk di dalam dan mengabaikan suara panggilanNya. Atau mungkin kita hanya sibuk menanti orang yang membutuhkan pertolongan untuk datang sendiri ke gereja? Jika demikian sikap kita, masih mampukah kita menjadi seperti pemazmur yang mengatakan: “supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa” (Mazmur 67:3). ( A.T. )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*