suplemenGKI.com

LUKAS 17: 5-10

Seorang guru bertanya kepada siswa-siswinya, apa artinya taat? Ada siswa yang menjawab, taat berarti mendengar, adapula yang menjawab taat berarti bersedia melakukan.Jawaban yang sangat baik!. Lalu guru tersebut memberi kesimpulan dengan mengatakan bahwa taat itu berarti: BERSEDIA MENDENGARKAN DAN MELAKUKAN APA YANG DIPERINTAHKAN.
Ya, itulah sebuah KETAATAN. Ketaatan adalah kesediaan kita untuk mendengar (mendengar nasihat yang benar, mendengar masukan yang positif, mendengar teguran yang membangun terutama mendengarkan FIRMAN TUHAN) serta bersedia dengan rendah hati untuk melakukannya dengan SEGENAP HATI.
Kisah tentang tuan dan hamba di dalam injil Lukas 17:5-20, sungguh sangat indah mengajarkan kita tentang sebuah ketaatan. Apapun yang diperintahkan tuannya kepada hambanya tersebut, hamba itu dengan segenap hati bersedia mendengar dan melakukannya. Walaupun tuan tersebut seolah-olah tidak menghargai, bahkan mungkin tidak mengucapkan “terimakasih” dengan apa yang telah dilakukan hambanya, hambanya tetap mendengar dan mengerjakannya dengan segenap hati.
Seorang tukang bangunan yang sudah tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia geluti selama puluhan tahun.Ia ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Ia tahu ia akan kehilangan penghasilan rutinnya namun bagaimanapun tubuh tuanya butuh istirahat. Ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada mandornya.
Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan yang handal yang ia miliki dalam timnya. Namun ia juga tidak bisa memaksa.
Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.
Dengan berat hati si tukang kayu itu akhirnya menyanggupi tugas dan pekerjaan tersebut.
Sang mandor dengan tersenyum berkata kepada si tukang kayu, “Kerjakanlah dengan yang terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada.”
Si tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan. Ia asal-asalan membuat rangka bangunan, ia malas mencari, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah. Sayang sekali, ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.
Saat rumah itu selesai. Sang mandor datang untuk memeriksa. Saat sang mandor memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu!”
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal ia tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.
Inilah refleksi hidup kita!
Apakah kita mentaati Tuhan hanya pada saat ada yang melihat, mengamati dan menilai kita? Ataukah kita mentaati Tuhan dengan segenap hati kita, apakah ada yang melihat atai tidak, mengamati atau tidak, menilai atau tidak, kita tetap Mentaati-Nya: MENDENGAR dan MELAKUKAN dengan SEGENAP HATI.

GOD BLESS YOU (YTP)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*