suplemenGKI.com

Selasa, 27 Juli

Pengkhotbah 2:1-17

Meski Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul perikop ini ”Hikmat dan Kebodohan adalah hal yang sia-sia”, namun beberapa terjemahan versi bahasa Inggris memberikan tema semacam ”Kesukacitaan adalah sia-sia”. Saya lebih setuju dengan judul perikop yang diberikan oleh beberapa terjemahan versi bahasa Inggris tersebut, karena di ayat pertama Pengkhotbah berkata, ” Mari, aku hendak menguji kegirangan!”. oleh sebab itu, mari kita penuhi undangan Pengkhotbah tersebut untuk menguji kegirangan, apakah sia-sia atau tidak.

-         Pekerjaan-pekerjaan besar apakah yang dilakukan oleh Pengkhotbah?

-         Hal-hal apa saja yang menjadikan hati pengkhotbah bersukacita?

-         Mengapakah pekerjaan-pekerjaan besar serta hal-hal yang menyukakan hati menjadi sia-sia bagi Pengkhotbah?

Renungan:

Setiap kita pasti ingin mengalami kesukacitaan di dalam hidup ini. Karena itu kita mencoba berbagai macam hal yang dapat memberikan kesenangan. Kita mencari hal-hal yang bisa menyegarkan, yang dapat menimbulkan gelak tawa. Sebagian dari kita mungkin juga senang menyaksikan tayangan televisi yang bersifat komedi. Bahkan mungkin kita dengan sengaja meluangkan waktu untuk nonton acara-acara seperti ”Mr. Bean”, atau ”Srimulat”, atau ”Opera van Java”. Kita tertawa menyaksikan ”ulah” para komedian itu. Namun tidak jarang kegirangan itu sirna seiring pudarnya tawa itu sendiri. Menyadari pengalaman-pengalaman yang demikian, Pengkhotbah bertanya, ”Apa gunanya?” (ay. 2).

Kesukacitaan yang sementara itu dapat pula diperoleh melalui anggur, bahkan berbagai prestasi karena melakukan hal-hal yang berguna, baik untuk diri sendiri maupun orang banyak. Kita bangga dengan rumah yang berhasil kita dirikan. Rumah yang didirikan Pengkhotbah pasti bukanlah rumah biasa. Seorang ahli kitab menulis ”Ia menciptakan sebuah dunia kecil di dalam dunia: beraneka bentuk, harmonis, indah; sebuah taman Firdaus sekular, penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang sopan, tanpa buah terlarang ataupun yang sejenis dengan itu”.

Sumber kegirangan lain yang dikatakan Pengkhotbah adalah kekuasaan. Banyak orang merasa girang dengan kekuasaan yang dimilikinya. Pengkhotbah juga memiliki kekuasaan itu, kekuasaan atas budak-budaknya (ay. 7) baik yang dibelinya maupun yang lahir di rumahnya, juga atas harta bendanya (ay. 7), berbagai hiburan (ay. 8).

Pada akhir perenungannya Pengkhotbah berkata bahwa semuanya sia-sia. Berbagai kegirangan yang ada di dunia ini adalah sia-sia. Lalu, bagaimana dengan kehidupan kita sendiri? Hal apa saja yang selama ini membuat kita bergembira? Apakah semuanya itu juga sia-sia karena akan sirna, tidak diingat orang lagi? Atau dapatkah kita menanamkan sukacita yang melampaui ruang dan waktu, yang tetap tertanam di dalam kekekalan?

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.

(1Yoh 2:15)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*