suplemenGKI.com

Rabu, 28 Juli

Pengkhotbah 2:18-23

Kalau dua hari yang lalu kita merenungkan bagaiamana Pengkhotbah menggambarkan kesia-siaan hidup, dan kemarin kita melihat bahwa kegembiraan yang dapat digapai manusia pun juga sia-sia belaka, maka hari ini kita akan merenungkan bagaimana Pengkhotbah menyoroti kerja keras manusia.

-         Mengapa Pengkhotbah membenci segala usaha dan jerih lelah di bawah kolong langit ini?

-         Mengapa Pengkhotbah mengatakan bahwa “Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya” (ay. 24), padahal sebelumnya ia mengatakan bahwa kegembiraan itu adalah sia-sia?

-         Bagaimanakah Saudara menjelaskan peran Allah dalam usaha kerja keras manusia itu?

Renungan:

Manusia dihargai karena jasanya. Orang yang bekerja keras tentu akan menghasilkan hal-hal yang dihargai sesamanya. Penghargaan tersebut hampir bisa dipastikan meyakinkan orang yang bersangkutan merasa semakin bermakna dan bersukacita. Namun demikian, Pengkhotbah melihat kesia-siaan dalam bekerja tersebut. Ada beberapa alasan yang dikemukakan Pengkhotbah sehingga akhirnya ia sampai pada kesimpulan tersebut di atas. Pertama, hasil kerja keras tersebut akhirnya juga harus diwariskan kepada orang lain. Dengan kata lain, kita yang banting tulang, orang lain yang menikmati (ay. 18). Kedua, kita tidak tahu apakah nantinya orang yang mendapatkan warisan tersebut dapat menata kehidupan selanjutnya serta mengembangkan warisan itu ataukah menghancurkannya (ay. 19). Ketiga, kita harus tetap berbagi dengan orang yang tidak bekerja (ay. 21). Oleh sebab itu kemudian Pengkhotbah mengajak orang untuk bersukacita, menikmati hidup ini selagi bisa dan ada kesempatan.

Akan tetapi sebenarnya Pengkhotbah menawarkan pandangan lain. Kalau di bawah matahari semuanya adalah sia-sia, tidak demikian halnya bagi mereka yang berada di bawah naungan kasih Allah. Oleh sebab itu adalah bijaksana apabila kita melibatkan Tuhan di dalam hidup ini. Sebab rasa puas itu sendiri berasal dari Tuhan. Dengan tegas Pengkhotbah mengatakan, ” Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah” (ay. 24).

Dengan demikian sebenarnya ada dua pilihan yang harus kita pilih. Kita boleh memilih untu menyenangkan Tuhan (ay. 26) serta menemukan arti, tujuan serta kepuasan, melihat hidup ini sebagai suatu anugerah yang luar biasa dari Tuhan, hidup dalam kerendahan hati dan penuh rasa syukur. Sedangkan piliha lainnya adalah jalan orang berdosa (ay. 26), yaitu dengan menyangkali Allah melalui tidak melibatkan Dia di dalam menjalani hidup tersebut. Lalu, manakah yang harus kita pilih?

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya

(Yoh. 6:27)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*