suplemenGKI.com

Senin, 26 Juli; Pengkhotbah 1:1-14

Kitab Pengkhotbah adalah salah satu dari lima kitab yang disebut ”Hagiographa”, artinya tulisan-tulisan kudus, yang dibacakan pada hari raya orang Yahudi. Biasanya kitab Pengkhotbah dibacakan pada hari raya Pondok Daun. Kitab ini membicarakan tentang realita kehidupan, dan itu sebabnya patut kita renungkan bersama.

-         Mengapa Penulis kitab ini memperkenalkan dirinya sebagai ”Pengkhotbah”? (ay. 1)

-         Bagaimana Pengkhotbah menggambarkan kehidupan ini? Apa maksudnya ketika ia mengatakan matahari terbit – terbenam – terbit (ay. 5)? Lalu dilanjutkan dengan angin yang bertiup (ay. 6) serta air yang mengalir (ay. 7)?

-         Bagaimana Saudara memandang kehidupan ini? Apakah menyenangkan, menyedihkan, atau biasa saja yang penting dijalani?

Renungan:

Di dalam Alkitab bahasa Ibrani, judul kitab ini adalah qoheleth (dari kata Ibr. Qahal, yang artinya berkumpul); secara harfiah artinya ”orang yang mengadakan dan berbicara kepada suatu perkumpulan.” Kata ini muncul sebanyak 7 kali dalam kitab ini (1:1,2,12; 7:27; 12:8-10) dan diterjemahkan sebagai “Pengkhotbah”. Dengan menyebut diri sebagai pengkhotbah, nampaknya Penulisnya ingin memperkenalkan diri sebagai sosok yang kompeten dalam memberikan pengajaran.

Dengan kompetensinya itu Pengkhotbah memberikan gambaran yang pesimistis tentang kehidupan ini. Gambaran tersebut dimulai dengan lingkungan hidup manusia yang seakan-akan berulang-ulang, seperti matahari yang terbit-tenggelam-terbit, dan juga berputar-putar, seperti angin dan air. Semuanya tanpa arah dan tujuan serta menghasilkan kebosanan. Mata tidak pernah kenyang melihat, demikian pula tidak puas mendengar. Nampaknya memang ada sesuatu yang baru, akan tetapi kita segera terjebak di dalam kebosanan kembali.

Sebagian dari kita mungkin melihat jaman sekarang jauh berbeda dengan jaman dahulu. Sekarang ada alat transportasi, kereta api, pesawat terbang, yang jauh lebih cepat dibandingkan larinya seekor kuda pada jaman dahulu. Namun prinsipnya sama, manusia melakukan perjalanan untuk menyelesaikan urusannya. Ketika ada seorang anak kecil yang mengajak neneknya untuk jalan-jalan di mall terbaru dan terbesar di kota mereka, si nenek hanya menggelengkan kepalanya. Mengapa? Bukankah dahulu tidak ada mall seperti sekarang? Ya, bentuknya berbeda, tetapi apa yang terjadi di dalamnya tetap sama, orang belanja sambil ”cuci mata” untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang menjerat manusia.

Lalu, kalau memang demikian halnya, untuk apa kita hidup? Justru pertanyaan inilah yang ingin disodorkan Pengkhotbah untuk kita renungkan bersama. Kalau kita dapat menyelami betapa sia-sianya hidup di dunia yang penuh dengan kesia-siaan ini, maka kita baru menyadari betapa kita membutuhkan uluran tangan Allah untuk memberikan makna agar tidak terseret pusaran kehidupan yang terus berulang dan berputar ini.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

(Efe. 2:10)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*