suplemenGKI.com

Semakin seseorang beriman maka seharusnya semakin baik hidupnya. Sayangnya realita yang sering terjadi justru sebaliknya. Saat ini banyak orang kelihatannya sangat beriman bahkan sikapnya sehari-hari nampak militan, hidupnya tidak bisa dijadikan teladan. Mereka cenderung dijauhi orang bukan karena kesaksiannya melainkan karena sikap mereka yang kerap keras & tidak toleran. Dengan demikian pasti ada yang tidak tepat dengan konsep dasar iman mereka. Salah satunya berkaitan dengan pemahaman mereka tentang kehidupan yang kekal.
Hidup kekal sering diberi makna hanya sebagai hidup yang tidak berujung yang layaknya mitos yang dimiliki kaum “Highlander.” Kaum yang tidak pernah mati sehingga bisa menjelajah dari satu masa ke masa yang lain. Sejarah bagi mereka adalah panggung yang selalu aktual memaparkan sepak terjang mereka. Sementara bagi orang Kristen fase kehidupan dibagi menjadi dua yaitu hidup sekarang yang akan berakhir dengan kematian, dan hidup yang akan datang yang akan dijalani setelah orang itu mengalami kematian. Dengan demikian orang Kristen sering tidak takut menghadapi kematian, sebab mereka percaya—sesuai dengan janji-Nya, akan ada kebangkitan yang membuat mereka tidak akan mati lagi.
Di sisi yang lain pemahaman yang demikian dapat membuat banyak orang Kristen terjebak dalam gaya hidup yang dangkal. Mereka cenderung kurang menghargai kehidupan yang sedang mereka jalani saat ini. Sebuah kehidupan yang seharusnya disyukuri, dirawat, dan diisi dengan berbagai aktivitas yang memuliakan-Nya. Tabita (Kisah Para Rasul 9: 36-43) adalah sebuah contoh yang tepat untuk maksud tersebut. Kehidupan Tabita merupakan potret orang yang beriman yang memikiki kekekalan selama hidupnya. Terbukti saat dia meninggal banyak orang disekitarnya yang berharap dia bisa bangkit lagi karena orang-orang yang yang ada di sekitar dia betul-betul mengalami karya iman yang nyata dari seorang Tabita selama dia hidup.
Tabita pada akhirnya memang dibangkitkan oleh Tuhan Allah melalui rasul Petrus, yang keberadaannya dapat dimungkinkan atas prakarsa saudara seiman Tabita. Mereka berhasil mewujudkan iman mereka secara konkret dengan tindakan nyata. Bagian ini kian menegaskan betapa iman, kepedulian bagi mereka yang papa, ditambah dengan eratnya persekutuan diantara orang percaya benar-benar menjadi identitas gereja mula-mula.
Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan penting bagi kita semua: Apakah iman, kepedullian kita terhadap kaum yang papa, ditambah eratnya persekutuan diantara jemaat yang kita miliki, masih seperti yang mereka punya? Atau jika hal itu dipandang terlalu tinggi karena dalam perikop tersebut ada fenomena kebangkitan orang mati, apakah persekutuan diantara jemaat masih memberi nilai tambah bagi pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya? Atau sebaliknya, kita jadi makin asing satu sama lain, sebab saat kita beribadah kita tidak ingin tahu nama orang yang duduk di sebelah kita?! Kita tidak mau tahu orang tersebut sama sekali mungkin karena salah satu dari dua hal ini: kita datang untuk beribadah bukan untuk mencari relasi atau orang itu tidak teralu penting untuk dimasukkan ke dalam daftar relasi kita!
Kekekalan memang baru kita masuki ketika kita mati, tetapi alangkah tragisnya jika saat kita hidup kita saat ini (baca: sehari-hari) kita sudah menjadi sosok yang “mati,” yang tidak punya makna bagi sesama kita! SELAMAT BERJUANG MENJADI PRIBADI YANG HIDUP!
( TAPE )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«