suplemenGKI.com

Kamis, 12 April 2012
I Yohanes 1:1-4

Seorang penulis surat pastilah mempunya tujuan tertentu. Ia ingin menyampaikan pesan kepada para pembaca suratnya. Inilah yang diungkapkan dalam perikop pembuka I Yohanes 1. Apakah pesan yang ingin disampaikan penulis? Mari kita menyimaknya dalam perenungan hari ini.

Pendalaman teks Alkitab

1. Ayat 1-2 : Dari manakah sumber tulisan surat yang kita baca hari ini?
2. Ayat 3-4 : Apakah tujuan penulisan surat ini?
3. Pernahkah Saudara menulis surat kepada orang lain untuk menebarkan benih iman kepada KRISTUS?

Renungan

Tulisan surat I Yohanes bersumber dari kesaksian pengalaman iman bersama KRISTUS. Surat ini bagaikan kotbah yang penuh kasih dan keprihatinan dari seorang gembala yang mencintai umat-Nya dan mengirimkannya kepada beberapa gereja yang ada dibawah tanggungjawabnya. Pada waktu itu di dalam gereja sedang berkeliaran nabi-nabi palsu. Penulis I Yohanes mau mengatakan bahwa apa yang dia ajarkan adalah sebuah pengalaman iman pribadi dalam persekutuan bersama KRISTUS.

Pengalaman pribadi bersama KRISTUS itu diungkapkan dengan kalimat bahwa:
• Ia telah mendengar KRISTUS. Guru sejati adalah orang yang mempunyai amanat dari TUHAN YESUS KRISTUS oleh sebab ia telah mendengarkan suaranya.
• Ia telah melihat (secara fisik) KRISTUS secara langsung
• Ia telah memandang KRISTUS. Artinya memahami makna kehadiran KRISTUS dan memahami misteri KRISTUS.
• Tangan-tangannya menyentuh KRISTUS.
Yohanes mau mengatakan bahwa ia mengenal KRISTUS secara fisik pada saat KRISTUS hidup sebagai manusia

Jadi kesaksian penulis I Yohanes adalah kesaksian otentik kehidupan seorang murid bersama Gurunya. Ia menjelaskan hal itu untuk mengatakan bahwa kesaksiannya bukanlah palsu. Ia membagikan kesaksian pengalaman hidup bersekutu bersama KRISTUS agar jemaat juga mengalami persekutuan dengan KRISTUS. Kesaksian Yohanes mempersekutukan jemaat dengan TUHAN dan dirinya.

Sebuah kesaksian tentang TUHAN yang kita bagikan kepada orang lain bukan hanya mampu membuka hati orang lain untuk beriman kepada TUHAN namun juga bukti bahwa kita membuka hati untuk kehadiran orang lain yang kita rindukan menjadi saudara dalam beriman kepada TUHAN. Bila orang mau mendengar dan percaya pada kesaksian kita maka sesungguhnya iman kepada TUHAN telah mempersekutukan kita semua. Ini akan mendatangkan sukacita yang luar biasa. Pernahkah Saudara merasakannya?

Egerton Young adalah seorang utusan Injil pertama kepada orang-orang Indian Merah. Di Saskatchkwan, ia menceritakan kepada mereka tentang kasih ALLAH. Bagi orang-orang Indian ini merupakan suatu pernyataan yang baru. Pada waktu ia selesai menyampaikan kesaksian itu, seorang kepala suku berkata: “ Pada waktu engkau membicarakan tentang Roh yang besar tadi, benarkah aku mendengar engkau mengatakan: “ Bapak kami?”
“ Benar, “ kata Egerton Young.
“Itulah sesuatu yang baru dan manis sekali bagiku, “kata kepala suku itu.
“ Kami tidak pernah memikirkan Roh yang besar itu sebagai Bapak. Kami mendengar Dia dalam Guntur, kami melihat Dia dalam di dalam kilat, angin ribut dan badai salju dan kami menjadi takut. Maka ketika engkau mengatakan bahwa Roh besar itu adalah Bapak kami, itu amat indah bagi kami.”

Orang tua itu berhenti sebentar, kemudian dia melanjutkan, sepertinya sekilas terang kemilau sekonyong-konyong menyinari dia.
“ Misionaris, apakah engkau katakan bahwa Roh besar itu adalah Bapak kita?”
“Ya, betul, “ kata misionaris itu.
“ Dan,” kata kepala suku itu, “ apakah engkau katakan bahwa dia adalah Bapak orang-orang Indian?”
“Ya , benar,” jawab misionaris itu.
“ Kalau begitu, “ kata kepala suku yang tua itu, “engkau dan aku adalah saudara!”

Sebuah kesaksian bukan hanya membuka hati orang untuk kehadiran TUHAN 
tapi juga membuka pintu persaudaraan

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*