suplemenGKI.com

Lukas 3:15-17, 21-22

Suatu kali Alexander Agung, pemimpin tertinggi negara Makedonia bersama sejumlah besar pasukannya melakukan perjalanan ekpedisi ke India. Pulangnya mereka harus melewati padang gurun tandus. Ketika itu persediaan air minum sangat terbatas. Akibatnya banyak anggota pasukan yang mati karena kehausan. Sebagai pemimpin tertinggi, Alexander memiliki hak istimewa. Baginya selalu tersedia air minum. Akan tetapi untuk menunjukkan rasa solidaritasnya kepada para prajuritnya, di hadapan seluruh pasukannya, ia menumpahkan air minumnya ke tanah.
Itulah solidaritas. Yaitu ketika ada kesediaan untuk menjadi sama dan senasib dengan mereka yang kurang beruntung, menderita, dan tertindas. Kesediaan yang tidak hanya diteriakkan atau menjadi slogan kosong, tapi sungguh-sungguh diwujudkan dalam tindakan konkret.
Dengan kata lain, solider bukan sekadar pada saat kita kekurangan lalu merasa senasib dengan mereka yang kekurangan. Atau pada saat kita lemah, lalu merasa senasib dengan mereka yang lemah. Kalau kita sama-sama kekurangan, sama-sama lemah, tidak perlu merasa senasib, memang sudah senasib. Solider lebih dari itu. Solider adalah ketika kita berkelimpahan, tapi rela senasib dengan mereka yang kekurangan. Solider adalah ketika kita kuat, tapi rela menanggung kelemahan orang lain.
Solider selalu berarti: berbuat, bertindak, melakukan sesuatu tanpa pamrih demi mereka yang kurang beruntung, tidak berdaya, dan menderita. Solider adalah seperti Tuhan Yesus, “Yang walaupun dalam rupa Allah, tetapi tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:6-7).
Tuhan Yesus sudah meneladankan hal mengenai solidaritas ini. Pernahkah kita bertanya di dalam hati kita; Mengapa sih Tuhan Yesus perlu dibaptis? Mengapa bukan Yesus sebagai Anak Allah yang membaptis? Saudara, ketika TuhanYesus dibaptis bukan berarti Tuhan Yesus memerlukan pembasuhan atas dosa-Nya, sebab Ia tidak berdosa ( 2 Kor 5:21; Ibr. 4: 15). Bukan juga karena Yohanes lebih tinggi otoritasnya dari TuhanYesus. Namun justru melalui peristiwa baptisan Tuhan Yesus, kita ditolong untuk memahami bagaimana Allah berurusan (berelasi) dengan manusia (yang berdosa). Yesus Kristus, Allah yang mulia itu rela dan bersedia menjadi sama dengan manusia sebagai wujud solidaritas-Nya. Babtisan Tuhan Yesus merupakan bentuk solidaritas Allah yang mengindentifikasikan diri-Nya dengan orang berdosa. Dengan berada di dalam air (melalui baptisan) Yesus, Sang Anak Allah, merasakan apa yang manusia rasakan tentang air ( ketakutan tenggelam, ketakuatan akan kekuatan jahat sebagaimana orang Israel dulu memahaminya),
Dimana solidaritas itu ada, di situ jembatan persaudaraan juga ada, tidak ada lagi jurang pemisah antara kaya dan miskin, penguasa dan rakyat, kuat dan lemah. Maka betapa damainya dunia ini. Saudara, kita juga dipanggil untuk meneladani Kristus bersolider terhadap sesama. AMIN

(YTP)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*