suplemenGKI.com

Roma 13 : 8 – 14  

Alkisah ada seekor buaya yang berwarna merah muda yang tidak disukai buaya-buaya lain. Tidak ada yang mau bergaul dengan dia.  Semua buaya suka mengejeknya dan menganggapnya aneh dikarenakan warna tubuhnya yang berbeda.  Hal ini membuat buaya tersebut sedih dan terluka hatinya.  Dia tidak bisa merubah dirinya menjadi seperti buaya yang lain, bahkan dia sendiri tidak tahu mengapa warna tubuhnya berbeda.  Dia selalu sendirian, hidupnya kesepian karena tidak ada teman bermain. Suatu ketika saat dia berjalan-jalan di sebuah taman, dari kejauhan tampak seorang anak perempuan yang sedang asyik menyiram bunga.  Dia ingin mendekati anak perempuan itu, jadi dia cepat-cepat melumuri tubuhnya dengan lumpur.  Kemudian dia mendekati anak itu, namun tiba-tiba turun gerimis yang membuat lumpur di tubuhnya luntur, sehingga anak itu lari ketakutan menjauhi si buaya merah muda itu. Keesokan harinya buaya ini bertemu lagi dengan anak perempuan itu, dan sekarang dia tidak berusaha merubah warna tubuhnya lagi.  Tak disangka-sangka anak perempuan itu tersenyum manis pada buaya itu, mendekatinya, mengamat-amatinya, dan tiba-tiba memeluknya, dan berkata bahwa dia adalah buaya yang paling cantik.  Wah, buaya ini bahagia sekali.  Ternyata anak perempuan ini tidak takut padanya dan dia diterima menjadi teman. Setiap keluarga di dalamnya ada individu yang sukses dan ada yang mengalami kegagalan yang mengecewakan.  Ada yang pintar dan ada yang bodoh, ada yang wajahnya menarik dan ada pula yang wajahnya tidak menarik, ada yang memiliki hambatan fisik tertentu dan ada yang tidak kurang suatu apapun tubuhnya.  Pernahkah terpikir oleh kita bahwa Allah sengaja menciptakan sebuah keluarga dengan komposisi yang unik, sebagai lembaga tempat pelatihan untuk mempersiapkan kita supaya dapat bergaul dengan berbagai macam orang di dunia ini.    Anggota-anggota keluarga akan saling berhubungan dengan baik, kalau mereka tidak saling mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang ada, dan sebaliknya justru dengan perbedaan-perbedaan itu dapat saling menghargai.  Bahkan bila ada dari antara keluarga tersebut yang memang “melebihi takaran” (seperti dalam cerita anak yang hilang), kita harus berusaha untuk tetap mengupayakan yang terbaik bagi dirinya.  Sebuah keluarga yang sehat membina anggota-anggotanya yang paling lemah, dan tidak menghancurkannya.  Seperti yang pernah diungkapkan oleh ibu dari seorang tokoh Kristen terkenal John Wesley, ”Anak yang mana yang paling kusukai…..aku mencintai yang sakit sampai dia kembali, dan yang sedang di luar rumah sampai dia pulang kembali!”   Selamat memasuki bulan keluarga!                                                                                     September 2008, PETA 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*