suplemenGKI.com

(MATIUS 18: 21-35)

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan mereka bertengkar, dan salah seorang dari mereka kemudian menampar temannya. Orang yang kena tampar merasa sakit hati, dan tanpa berkata apa-apa dia lalu menulis di atas pasir: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

keluarga yang mengampuni - gki residen sudirman surabaya


Mereka kemudian meneruskan perjalanannya, dan ditengah-tengah perjalanan tersebut mereka menemukan sebuah oasis. Oleh karena kesegaran telaga yang ada di oasis itu mereka lalu memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya mencoba untuk berenang namun ternyata dia malah nyaris tenggelam. Untung dia diselamatkan sahabatnya. Ketika dia mulai sadar dan rasa takutnya hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya,”Kenapa setelah saya melukai hatimu kau menuliskannya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di sebuah batu?” Temannya sambil tersenyum menjawab,” Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menuliskannya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa diperbuat seseorang bagi kita, kita harus memahatnya di atas batu hati kita agar kebaikan orang tersebut tetap dapat kita ingat.”
Dalam hidup ini betapa seringnya timbul beda pendapat dan tidak jarang perbedaan pendapat itu sering menimbulkan konflik. Bahkan dalam lingkungan yang paling dekat, dalam suatu keluarga misalnya, perbedaan pendapat senantiasa dapat terjadi. Lebih jauh lagi, perbedaan pendapat yang tidak ditanggapi dengan bijaksana—oleh karena mungkin tekanan pekerjaan yang terlalu berat, bukan tidak mungkin malah menimbulkan konflik yang lebih besar. Nah, jika sudah demikian maka ada pihak-pihak yang merasa “tertampar” hatinya.
Jika hati kita yang disakiti, sampai berapa kali kita harus mengampuni orang yang menyakiti hati kita tersebut? Pertanyaan Petrus kepada Yesus bisa jadi merupakan pertanyaan kita juga. Apakah cukup 7 kali? Yesus menjawab:” 70 kali 7 kali!” Tuhan Yesus tidak berhenti hanya sampai pada perhitungan matematika saja. Selanjutnya Dia bahkan menyodorkan sebuah perumpamaan kepada Petrus tentang pengampunan. Sebagai penutup bagian ini, Tuhan Yesus mengingatkan Petrus dan tentu saja kita semua, jika kita tidak mampu mengampuni saudara kita dengan segenap hati bagaimana mungkin berharap Bapa di sorga dapat mengampuni kita.
Oleh karena kita membutuhkan pengampunan, maka sudah semestinya kita juga mampu mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Cobalah untuk saling memaafkan, belajarlah menulis di atas pasir.
(TAPE)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*