suplemenGKI.com
KELUARGA YANG BERTEKUN

KELUARGA YANG BERTEKUN

Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!” (Yehezkiel 18:32)

Kadang kita merasa bahwa hidup ini tidak adil. Apalagi kalau kita sudah merasa menjalani hidup ini dengan sebaik mungkin, tapi ternyata kita banyak mengalami musibah, bahkan terpeleset dan jatuh. Semua itu membuat kita merasa kecewa, bahkan putus asa. Perasaan serupa juga dapat dialami oleh orang yang telah menjalani hidup ini dengan tidak baik, yaitu pada saat mereka merasa bahwa beratnya hukuman atau akibat dosa yang harus mereka tanggung tidaklah sebanding dengan besarnya dosa yang telah mereka lakukan. Kurang lebih begitulah perasaan bangsa Israel pada masa pelayanan nabi Yehezkiel.
Bangsa Israel pada waktu itu berada dalam pembuangan dan hidup sebagai tawanan. Semua itu merupakan akibat dosa yang telah dilakukan oleh bangsa Israel itu sendiri. Lamanya penghukuman Tuhan membuat ada generasi yang lahir di pembuangan. Mereka tidak tahu menahu tentang dosa yang dilakukan generasi sebelumnya, tapi mereka harus turut menanggung akibatnya. Itu sebabnya mereka kemudian beranggapan bahwa tindakan Tuhan tidak tepat. Tuhan tidak melakukan keadilan. Masakan ayah yang makan buah mentah dan gigi anaknya yang harus menjadi ngilu? Namun Tuhan dengan tegas menyatakan betapa salahnya paham yang demikian itu. “Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya.” (Yeh. 18:26-27). Bahkan kalau kita memperhatikan kalimat penutup pasal 18 ini, “Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel? …… Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!” (ay. 31,32), jelas bahwa Allah tidak menghukum dengan penuh sukacita. Penghukuman itu sendiri dimaksudkan agar mereka bertobat, hidup dalam kebenaran. Di sini kita dapat melihat kebaikan hati Allah, kebaikan hati yang selalu memimpin orang untuk hidup dalam kebenaran. Ini juga berarti bahwa bila kita hidup dalam kebenaran maka kita juga akan merasakan kebaikan Allah.
Tidak jarang kita menganggap Allah baik ketika Dia mengabulkan doa-doa kita, menuruti keinginan kita. sehingga tanpa sadar kita lupa bahwa kebaikan hati Allah itu untuk membimbing kita hidup dalam kebenaran. Akibatnya, kita tidak bertekun dalam kebaikan Allah – dengan tidak (lagi) mempercayai bahwa Allah baik – kemudian kita juga meninggalkan pola hidup dalam kebenaran. Kiranya kita tetap belajar menghayati kebaikan hati Allah meski dalam pergumulanhidup. (RaZaMu)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*