suplemenGKI.com

KELEGAAN YANG SEJATI

01/07/2011

MATIUS 11: 16-19, 25-30

Bacaan kita memperlihatkan perumpamaan Tuhan Yesus tentang Allah yang mengirimkan utusan-utusanNya yang berupaya mengajak umat manusia agar “memberi tempat” bagi Allah untuk ikut serta dalam peperangan melawan dosa. Namun, tawaran dari pihak Allah ini ditolak mentah-mentah oleh manusia yang mencoba menggantungkan diri pada kekuatannya sendiri, dan menjalankan hukum Taurat menurut pemahaman dan kemampuannya sendiri.
Beberapa kelompok manusia pada saat itu, tidak mau membuka hatinya sama sekali bagi Tuhan Yesus. Hati manusia terlalu bebal , tidak ada kerendahan hati dan kasih sama sekali; padahal dua hal itu yang menjadi inti dari hukum Taurat. Sungguh suatu ironi yang dahsyat terutama bagi orang Farisi dan ahli Taurat, mereka sangat menguasai hukum Taurat akan tetapi tidak memiliki inti dari pada hukum Taurat! Hukum Taurat (yang datangnya dari Allah) dan Tuhan Yesus (yang datang untuk menggenapi hukum Taurat), ditentang habis-habisan oleh mereka. Mereka seolah-olah mengangkat diri mereka sendiri sebagai penentu baik tidaknya segala sesuatu!
Di sisi yang lain ada sekelompok manusia yang selama ini dianggap remeh, tidak penting, tidak terhormat dalam pandangan masyarakat pada umumnya. Mereka itu seperti kaum gembala, pemungut cukai, para pelacur, dan orang-orang berdosa lainnya. Mereka inilah yang justru tidak pernah menolak karya keselamatan dari Bapa sorgawi yang dinyatakan, baik oleh Yohanes Pembaptis maupun Tuhan Yesus. Kalimat penutup dari Tuhan Yesus (ayat 19):” Tetapi hikmat Allah (sophia) dibenarkan oleh perbuatannya,” ingin mengungkapkan bahwa pada akhirnya perbuatan Sang Sophia (Yesus Kristus) tetap akan berlaku, entah manusia mau menerima atau menolakNya.
Dalam ayat 25 Tuhan Yesus dengan sengaja memakai kata nepios (anak bayi/balita, kekanak-kanakan, tersingkir, tidak terpelajar) dan mengkontraskannya dengan kata sophos (bijak, berpengalaman, terpelajar) serta sunetos (pandai, cerdas). Tuhan Yesus nampaknya dengan sadar mempertentangkan antara orang-orang sederhana yang butuh bimbingan dengan orang bijak berpengetahuan yang tidak membutuhkan bimbingan. Para sophos yang sok tahu ini malah tidak punya pengetahuan yang utuh tentang Sophia. Sebaliknya para nepios yang sederhana ini justru memiliki hubungan yang lebih akrab dengan Bapa Surgawi!. Para nepios jugalah yang pada akhirnya paling menikmati janji Tuhan Yesus di ayat 28 & 29.
Sikap yang diharapkan dari kita (yang mau memposisikan diri sebagai nepios) adalah menjadi anak yang mau belajar dan diajar. Dengan sikap seperti itulah kita siap mengakui ketidakberdayaan kita menghadapi beban kehidupan maupun beban dosa. Berikutnya mau menundukkan diri di hadapan Tuhan Yesus (yang lemah lembut dan rendah hati, band. Filipi 2: 5-8), untuk menyerahkan beban kehidupan maupun dosa kita, dan mempercayakan diri kita kepada Tuhan Yesus agar mendapat kelegaan yang sesungguhnya.

TAPE

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*