suplemenGKI.com

 

Minggu, 14 September 2014

Matius 18:23-35

 

Pengantar

Manakah yang lebih Saudara sukai: mendapatkan hak ataukah kehilangan hak? Pastilah orang lebih senang mendapatkan haknya. Mampukah kita ikhlas mengampuni apabila yang kita pikirkan hanya hak kita? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 23-27: Apa yang mendorong sang raja membebaskan hambanya dan menghapus hutangnya?
  • Ayat 28-34 : Mengapa hamba itu tak sabar menunggu kawannya melunasi  hutangnya dan bahkan memenjarakan kawannya? Apakah ganjaran yang diberikan oleh sang raja kepada hamba yang jahat itu?
  • Ayat 35      : Apakah pesan yang ingin disampaikan TUHAN YESUS melalui  kisah ini?

Perumpamaan ini mengisahkan hati raja yang penuh belas kasihan sehingga membebaskan dan menghapus hutang hambanya dengan rela dan ikhlas saat si hamba memohon belas kasihan. Betapa besar kemurahan hati sang raja yang telah membebaskan hambanya dari hutang 10.000 talenta. 1 talenta = 6000 dinar.  Sedangkan 1 dinar = upah harian seorang pekerja. Sesungguhnya hutang si hamba pertama ini sangat besar dan tak terbayarkan oleh seorang hamba namun sang raja membebaskannya. Sang raja mengikhlaskan haknya demi membebaskan si hamba dari tekanan kesulitan.

Kehidupan ini memang keras, masing-masing orang harus memperjuangkan hidupnya. Namun sang raja dalam perumpamaan ini memberikan contoh bagaimana menyikapi kehidupan yang keras dengan kelembutan hati, berbelas kasihan, memahami kesulitan sesama dan mengikhlaskan apa yang menjadi haknya demi membebaskan orang lain dari tekanan persoalan. Bayangkanlah betapa bahagianya si hamba menerima anugerah pengampunan dan pembebasan itu. Sayangnya kemurahan hati sang raja tidak tercermin dalam sikap si hamba. Kebahagiaannya tidak dibagikan kepada orang lain. Dia justru bersikap keras terhadap kawan yang berhutang 100 dinar kepadanya. Dia menuntut haknya segera dipenuhi, oleh karena itu dia menangkap, mencekik dan memenjarakan kawan yang belum bisa membayar hutangnya. Dia hanya memikirkan kebutuhan dan pemenuhan haknya hingga tak mampu mengalirkan anugerah pembebasan yang baru saja diterimanya. Oleh karena itulah sang  raja memberi pelajaran dengan ganjaran hukuman kepadanya.

Mengampuni dengan ikhlas dan sepenuh hati hanya mungkin kita lakukan apabila kita merasakan bahagia dalam syukur atas karya pengampunan dan pembebasan dari TUHAN dan sedia berbagi kebahagiaan untuk orang lain. Jadilah pengampun yang ikhlas agar orang lain terbebas dari tekanan dan beban.

Refleksi

Dalam keheningan, selidikilah isi hati Saudara: adakah kebahagiaan dan keikhlasan mengampuni yang siap dialirkan?

Tekadku

TUHAN, mampukan aku untuk tidak hanya menuntut hakku demi membahagiakan orang lain.

Tindakanku

Aku akan selalu mengingat dan mensyukuri kebahagiaan atas anugerah pengampunan yang diberikan TUHAN dan sedia berbagi kebahagiaan dengan ikhlas.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*