suplemenGKI.com

Kamis, 29 Juli 2010

Mazmur 49

Tidak ada orang di dunia ini yang dengan sengaja mencari kesedihan ataupun kesusahan dalam hidup. Semua orang pasti ingin hidup bahagia. Apakah itu salah? Tidak. Semua orang berhak untuk hidup bahagia. Namun, yang menjadi persoalan adalah tak jarang pula orang tidak mempedulikan apakah jalan yang ditempuh adalah jalan yang benar ataukah jalan yang pada akhirnya membawa pada kesulitan/ketakutan bagi dirinya sendiri. Bagaimana dengan bapak/ibu/saudara, apakah kebahagiaan yang ada pada bapak/ibu/saudara sekarang adalah kebahagiaan yang berada pada jalan yang benar di mata Allah?

Renungan:

Orang kaya mendapat kepuasan di dunia, mampu membeli apa saja yang diinginkan, mampu memperoleh apa saja yang diperlukan. Orientasi hidup di dunia semata-mata untuk kekayaan/harta benda (ay. 7) menggeser orientasi yang lain, yakni kehidupan di dunia baka (ay. 8). Mengapa yang mendapatkan sorotan tajam adalah orang yang ber-harta benda? Bagaimana dengan yang tidak? Persoalannya bukanlah pada harta benda, tetapi pada sikap memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan (ay. 7).

Ketakutan dimiliki oleh semua orang tanpa kecuali, baik orang kaya maupun orang yang tidak kaya. Orang kaya takut hartanya lenyap, sehingga dalam kesibukan menambah harta milik dan juga kekuasaan, mereka berusaha menyingkirkan kesadaran bahwa segala usaha mereka percuma, karena pada akhirnya mereka akan mati; kekayaan tidak dibawa serta (ay. 18). Orang yang tidak kaya pun takut menderita kekurangan, takut ditimpa penyakit, kecelakaan, pengangguran, peraturan yang menghalangi, dan sebagainya. Semua orang tanpa kecuali hanya dapat dibebaskan dari ketakutan oleh Tuhan, yang memerdekakan orang yang percaya kepada Dia: yang hidupnya ditentukan oleh iman, tidak lagi membanggakan diri atas kedudukannya, mampu memandang harta dan pengaruhnya sebagai alat untuk menolong sesamanya, untuk membebaskannya dari kekurangan dan penindasan; dengan demikian mereka mewujudkan panggilannya bekerjasama dengan Allah. Selain itu, yakin bahwa Tuhanlah yang menjamin hidup, kini dan selamanya tidak perlu takut lagi dan pasti menjadi sanggup mengusahakan dan memperjuangkan keadilan bagi lingkungan sekitar. Dengan kebijaksanaan/pengertian (ay. 21), dapat membagikan pengalaman pada oranglain, hingga mereka bersama-sama dapat menyaksikan bahwa Tuhan membebaskan mereka juga.

Selamat terlepas dari kebahagiaan yang sia-sia menuju sebuah pembebasan dari ketakutan!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*