suplemenGKI.com

Rabu, 10 Maret 2010; Mazmur 32

Mazmur 32 sebenarnya dapat digolongkan ke dalam kelompok mazmur doa ucapan syukur. Jiwa ucapan syukur Mazmur ini nampak dalam bagian pembukaan (ay. 1-2) dan juga penutupnya (ay. 11). Namun demikian Mazmur ini memiliki keunikan sedikit, yaitu adanya unsur nasihat dan pengajarannya yang cukup menonjol, misalnya dalam ayat 6, 8 dan 9.

  • Apakah sumber kebahagiaan yang disebutkan dalam Mazmur ini? Bagaimana kita membandingkannya dengan kebahagiaan yang disebutkan dalam Mazmur 1?
  • Apakah maksudnya “tidak berjiwa penipu” (ay. 2)? Bagaimana hubungannya dengan pergumulan yang dinyatakan dalam ayat 3-5?
  • Konsep Allah seperti apakah yang dipahami Daud dalam ayat 6-7?
  • Dalam hal apakah kita menjadi seperti kuda atau bagal (ay. 9-10)?

 

Renungan:

Pernah mendengar kisah piring pecah? Ada sebuah keluarga yang memiliki 2 orang anak. Orangtua kedua anak ini mendidik mereka untuk belajar tanggung jawab dengan cara melibatkan mereka untuk cuci piring secara bergantian. Ketika giliran si bungsu mencuci piring, tragedipun terjadi. Salah satu piring yang dicucinya jatuh dan pecah. Hal itu diketahui kakaknya yang mengancam untuk melaporkan ke orang tua mereka. Karena ketakutan, si bungsu memohon agar kakaknya tidak melaporkan kejadian tersebut dengan kompensasi ia akan menggantikan giliran si kakak mencuci piring selama satu minggu.

Seminggu berlalu, masa kompensasipun habis. Tapi si kakak memperdayai adiknya. Setiap kali tiba waktu mencuci piring, ia berkata dengan nada rendah, “piring… piring….” sambil melirik adiknya penuh arti. Dengan tindakan ini si kakak seolah berkata, “Ayo cuci piring-piring itu! kalau tidak, maka aku akan laporkan kesalahanmu minggu lalu.” Si bungsu jadi tertekan. Dosa itu telah membuatnya tertekan. Manusia seringkali lebih suka hidup dalam kebohongan sampai kebohongan itu mencelakakannya.

Keadaan segera berubah ketika si bungsu akhirnya mengakui kesalahannya kepada orangtuanya. Mereka mengampuninya. Hal itu membuat si bungsu berbahagia, ia terbebas dari tekanan dan jerat dosanya. Ketika tiba waktu mencuci piring dan si kakak melirik ke arahnya sambil berkata “piring… piring….”, ia tidak terintimidasi lagi.

Betapa manis buah dari pengakuan dosa, dan betapa menyenangkannya hidup dalam pengampunan dosa. Hal inilah yang dialami Daud. Betapa ia tertekan oleh karena dosa dan pelanggarannya. Dan yang lebih ironis lagi adalah kenyataan bahwa Allah maha pemurah dan pengampun, namun manusia kerap kali enggan untuk memohon pengampunan daripada-Nya. Akan tetapi, ketika Pemazmur mengakui dosanya di hadapan Allah, ia merasakan kebahagiaan sebagai orang yang dimengerti, diterima dan dicintai kembali. Tidakkah kita ingin mengalami kebahagiaan yang semacam itu? lalu, mengapa kita enggan untuk mengaku dosa?

ALLAH berkenan saat kita hidup transparan:

Sedia mengakui dosa adalah salah satu usaha menjadi transparan dan

Setia menjalani hidup dengan transparan di hadapanNya  adalah kunci kebahagiaan”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*