suplemenGKI.com

Rabu, 30 Januari 2013
Mazmur 71:1-6

Pengantar
Pada suatu saat, ketika karier Martin Luther tengah dihantam badai, ia menerima beberapa berita yang melemahkan semangat. Namun, ia menanggapinya dengan berkata, “Akhir-akhir ini saya sering memandang ke langit di waktu malam. Saya melihat bintang-bintang berkilauan yang bertebaran. Tak ada pilar yang menopang mereka. Namun, bintang- bintang itu tidak jatuh.” Semangat Luther bangkit kembali pada saat ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ALLAH yang menopang alam semesta juga pasti mempedulikan dirinya. Pernahkah Saudara merasa lemah dan tak berdaya dalam karya hidup dan pelayanan? Apakah yang Saudara lakukan saat berada dalam kondisi seperti itu? Mari kita mengingat dan merenungkannya!

Pemahaman
Ayat 1 – 2 , 4 : Apakah masalah yang sedang dihadapi oleh Pemazmur dan apa yang ia lakukan di tengah masalah yang sedang dihadapinya?
Ayat 3, 5 : Siapakah TUHAN menurut Pemazmur?
Ayat 6 : Mulai kapankah Pemazmur berpengharapan pada TUHAN?

Mazmur ini berisi doa permohonan seorang lanjut usia yang sedang menghadapi kesulitan. Di masa tuanya, Pemazmur merasakan kesulitan dan kelemahan yang menyusahkan. Ia dilanda ketakutan dan kecemasan. Ia merasa terbuang, jauh dan ditinggalkan ALLAH. Kesulitan itu datang dari orang-orang yang hendak mempermalukannya, dari tangan orang-orang fasik, lalim dan kejam, dari tangan orang-orang yang berunding mengincar nyawanya dan dari orang-orang yang berikhtiar mencelakakannya.

Dalam pergumulan akan persoalan dan kesulitan yang sedang dihadapi inilah, ia mengingat kembali kasih sayang ALLAH. Ketika kekuatan makin lemah dan kesukaran-kesukaran di masa tua makin jelas, ia mengenang kembali perlindungan dan karya penyelamatan ALLAH yang tak terhitung jumlahnya di masa lalu ( ay 15). Ia kembali berpaling dan berseru dengan penuh semangat kepada ALLAH yang adalah Batu karang yang tak tergoyahkan ( ay 3). Ia memohon agar ALLAH Yang Perkasa melindungi dan membebaskannya.

Pemazmur adalah orang yang telah berjalan bersama ALLAH sejak muda bahkan sejak mulai dari kandungan ia telah bertopang pada TUHAN. Sekalipun demikian ia tetap mengalami kesulitan-kesulitan, mengalami banyak kesusahan dan mala petaka ( ay 20). Namun kesulitan-kesulitan ini dapat ia lalui sebab ALLAH terbukti sebagai Gunung batu, tempat ia bertopang. Di usia lanjut, ia tetap memelihara iman dan pengharapannya pada ALLAH. Pada masa tua ia tetap bertopang pada ALLAH bahkan ia selalu memuji-muji ALLAH sepanjang hidupnya (ay 6). Pemazmur benar-benar menyadari bahwa dirinya lemah namun memiliki ALLAH yang perkasa yang sanggup menopangnya.

Refleksi 
Ambillah waktu hening sejenak. Ingat-ingatlah apa yang Saudara rasakan saat dilanda sakit atau persoalan hidup yang berat. Apakah Saudara merasa lemah? Siapakah yang paling Saudara harapkan pada saat seperti itu? Apakah pada saat lemah seperti itu, Sadara merasakan kehadiran ALLAH yang perkasa? Apakah Saudara menyandarkan diri kepada-Nya?

Tekadku
TUHAN, tolonglah aku untuk selalu mengandalkanmu dalam setiap karya hidup dan pelayanan, sebab Engkaulah sumber kekuatan dan Penopang hidupku.

Tindakanku:
• Mulai hari ini aku tidak mengeluh terhadap kelemahan dan persoalan. Aku akan memulai segala sesuatu dengan semangat sambil berkata “ Dalam nama TUHAN YESUS!”.
• Mulai hari ini sesibuk apa pun, aku akan mengawali setiap hari dengan doa sebab aku membutuhkan TUHAN untuk menopang seluruh perjalanan hidup, karya dan pelayananku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*