suplemenGKI.com

Sabtu, 11 September 2010; 1 Timotius 1:12-17

Dalam rangka meminta Timotius untuk menjaga kemurnian pengajaran iman Kristen di Efesus, rasul Paulus memberikan kesaksian bagaimana Injil Kristus itu begitu berkuasa dan berpengaruh dalam hidupnya.

- Dapatkah Saudara memberikan gambaran detil tentang siapa Paulus sebelum dia percaya Kristus? Apa saja yang dilakukannya, sehingga ia menyebut dirinya sebagai seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas?

- Apa yang dilakukan Kristus terhadap orang yang sedemikian berdosanya seperti rasul Paulus itu?

- Kita adalah manusia berdosa. Coba ceritakan kepada seseorang tentang: [a] apa yang sudah Allah kerjakan di dalam hidup Saudara; [b] kemudian apa yang akan Saudara lakukan untuk Allah; [c] apa pula yang akan Saudara lakukan terhadap sesama, khususnya bagi mereka yang telah berbuat dosa terhadap Saudara

Renungan:

Kalau ada orang yang mengenal Paulus sebelum percaya kepada Kristus, kemudian melihat kiprah Paulus setelah percaya Kristus pastilah terheran-heran. Betapa tidak, sebelum mengenal Kristus, Paulus adalah sosok yang keras. Ketika ia memegang sebuah keyakinan, maka ia melihat keyakinan lain sebagai ancaman, dan orang yang memegang keyakinan tersebut adalah orang yang pantas untuk dimusnahkan. Itulah sebabnya maka ketika para murid Yesus memberitakan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan Allah, Paulus dengan giat memusuhi mereka.

Dalam Alkitab, catatan tentang tindakan Paulus terhadap murid Yesus dimulai dari perannya dalam perajaman Stefanus. Pada waktu itu pakaian para saksi yang merajam Stefanus diletakkan di kaki Paulus. Hal ini menunjukkan bahwa Paulus memiliki peran yang besar dalam proses perajaman tersebut. Peran tersebut semakin besar ketika ia berhasil mendapatkan legitimasi dari para pemimpin untuk memburu, menangkap dan memenjarakan para pengikut Kristus – bahkan yang berada di luar Yerusalem sekalipun. Maka tidaklah mengherankan kalau ia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang penganiaya, bahkan seorang yang ganas. Kata ”ganas” ini mengandung pengertian bahwa tingkah lakunya waktu itu dapat dikategorikan biadab. Namun pada akhirnya Paulus menyadari bahwa penganiayaan yang dilakukan itu semuanya tanpa pengetahuan sejati, yaitu di luar iman.

Meski demikian, Kristus tetap mengasihinya. Ia menunjukkan belas kasihan-Nya kepada Paulus dengan cara memanggil Paulus untuk menjadi hamba-Nya, mempercayakan pelayanan kepadanya. Kehidupan rasul Paulus dapat dikatakan sebagai iklan kasih Allah. Betapa hebatnya kesabaran Allah terhadap orang berdosa. Sebab ketika seseorang melihat Paulus sebelum bertobat dan membandingkannya dengan sesudah bertobat, maka mereka tentu menyadari perubahan pada diri rasul Paulus. Dan perubahan itu diawali dengan pertanyaan ”Saulus, Saulus. Mengapa engkau menganiaya Aku?” ini adalah sapaan yang kemudian merangkul Saulus. Rangkulan kasih inilah yang kemudian melembutkan serta mengarahkan hati Saulus pada jalan yang benar.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita mau meneladani kasih Allah, yang dengan sabar menanti pertobatan orang berdosa? Dan sebagai orang berdosa, apakah kita mau bersabar terhadap saudara-saudara seiman yang masih bergumul dengan dosanya?

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*