suplemenGKI.com

Mazmur ini berisi teguran atas kesalehan atau ibadah yang keliru di hadapan Allah yang berkuasa atas langit dan bumi.  Melalui mazmur ini kita akan melihat apa yang harus kita koreksi dalam ibadah kita kepada Allah supaya ibadah kita menjadi ibadah yang berkenan di hadapan Allah.

  1. Ayat 1-5: Bagaimana pemazmur melukiskan kehadiran Allah di tengah-tengah umatNya?
  2. Ayat 8-13; 16-20: Apa yang tidak Allah sukai dari kehidupan ibadah umatNya?
  3. Ayat 21a: Bagaimana orang yang bersalah biasanya melakukan pembelaan diri?
  4. Ayat 6, 8, 21b-22: Bagaimana Allah menunjukkan keseriusanNya terhadap kesalehan umat yang keliru?
  5. Ayat  14-15, 23: Ibadah seperti apa yang Allah minta dari kita?

 

Renungan  

Allah dilihat sebagai Hakim dalam kehidupan umatNya, dengan kuasaNya Ia sanggup untuk mengadili umatNya dengan seadil-adilnya. Dan Allah akan mengadili umatNya berdasarkan ikatan perjanjian yang ada antara Allah dan umatNya.  Hal yang diungkap oleh Allah dalam kemahakuasaanNya adalah Ia sanggup melihat manakah ibadah umat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh atau hanya merupakan kesalehan yang menipu. Allah tidak suka bila umatNya berpikir Allah dapat dipuaskan hanya dengan korban sembelihan dan korban bakaran, sementara dibalik itu semua umat tetap hidup dengan seenaknya, menolak teguran firman Tuhan, tidak berbeda dengan pencuri, pezinah, dan bibir yang mengucapkan kata-kata yang jahat serta banyak tipu daya.  Allah berkata, bila ibadah hanya sekadar dimaknai sebagai ritual persembahan korban, maka Allah menegaskan itu tidak berguna.  Allah adalah pemilik segala hewan ternak yang mereka korbankan (ay. 9-13).  Allah menentang ibadah yang demikian. Ibadah yang hanya dimaknai sebagai ritual, ibadah yang kehilangan kuasanya untuk mengubahkan kehidupan orang-orang yang melakukannya.  Bahkan yang lebih menyedihkan adalah ketika ‘diamnya’ Allah dipahami sebagai tanda bahwa ibadah yang demikian tidak jadi persoalan penting yang harus dibereskan, baik di hadapan Allah maupun orang-orang itu sendiri (ay. 21).  Orang merasa sudah beres, sehat rohaninya dengan cukup hanya memberikan korban bakaran (pada waktu dulu), atau cukup dengan datang ke gereja, memberi persembahan yang besar, melayani di gereja, berdoa, dlsb, sementara di sisi lain ternyata hidupnya tetap jahat di mata Allah.  Allah memandang serius ibadah yang demikian, dan ini ditunjukkan dengan pengadilan Allah yang akan mendatangkan hukuman bagi orang-orang yang demikian (ay.8 dan 22).  

Tiada lain yang Allah kehendaki selain dalam segala bentuk ibadah kita (apa pun itu), kita melakukannya dengan tulus dan sungguh-sungguh untuk memuliakan Allah. Baik ketika ada di gereja, ketika di tempat bekerja, di rumah, ketika bergaul dengan saudara seiman, maupun dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, kehidupan kita bisa kita buktikan bahwa ada Tuhan yang kita muliakan dalam segala sesuatu.

 

Semakin terang orang melihat kehadiran Allah, semakin hidupnya memancarkan terang itu sendiri bagi sesamanya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

2 Comments for this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*