suplemenGKI.com

Mazmur 30:7-13.

Tidak Ada Alasan Untuk Menjadi Goyah

    Hidup adalah sebuah proses. Dalam berproses terkadang tidak mudah ada kalanya meyenangkan, ada kalanya menyedihkan. Selama masa berproses itu manusia seringkali diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Tidak mudah menentukan pilihan dikala sedang berproses, apabila keliru atau salah menentukan pilihan maka akan sangat menentukan bagaimana hasil prosesnya kelak. Dalam Mazmur 30 ini Pemazmur sedang masuk dalam perjalanan berproses, bagaimana ia tetap teguh berpegang pada keyakinannya kepada Tuhan. Dan itu sangat mempengaruhi penentuan pilihannya untuk selamanya. Kita perlu belajar dari sikap pemazmur dalam berproses, dia tetap teguh pada Tuhan.

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:
1.    Dapatkah saudara melihat sesuatu yang mengantar pemazmur menyadari betul bahwa ia sangat bergantung kepada Tuhan?
2.    Dapatkah saudara menemukan pernyataan-pernyataan kebergantungan pemazmur kepada Tuhan?
3.    Dapatkah saudara menunjukkan bukti bahwa pemazmur tidak goyah keyakinannya kepada Tuhan dalam berproses?
4.    Pernahkah saudara mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan, apakah tetap setia kepada Tuhan atau mengalami kegoyahan ketika berproses?

Renungan:
The Wycliffe Bible commentary, menjelaskan bagian ini bahwa sebelum pemazmur masuk dalam sebuah proses yang sulit dalam hidupnya melalui penderitaan sakit-penyakit, dia adalah  pribadi yang memegahkan diri dengan semangat dan kekuatannya sendiri. Sifat itu menggiringnya pada sebuah kesombongan (v.7) Tetapi semua itu menjadi runtuh ketika penderitaan menindihnya. Ketika itulah pemazmur kemudian membuka mata untuk melihat ketidakberdayaannya dan menyadari bahwa dia membutuhkan Tuhan. Dalam kesadaran itu ia berseru memohon pertolongan kepada Tuhan (v. 9-11) dan Tuhan menjawab seruannya.
Pernyataan-pernyataan “…apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepadaMu dan memberitakan kesetiaanMu..? Semua mengisyaratkan bahwa dirinya memang mahluk lemah yang rentan terhadap sakit-penyakit, bahkan kematian. Pemazmur juga menyadari bahwa dirinya hanyalah debu yang tidak ada artinya,  untuk sekedar bersyukur kepada Tuhan pun ia tidak sanggup. Satu-satunya kekuatan, keselamatan dan kepulihan adalah dengan bergantung kepada Tuhan secara totalitas.
Ketika pemazmur bergantung secara totali kepada Tuhan, Tuhan mengubah penderitaannya menjadi kemenangan. Istilah yang dipakai “Aku yang meratap telah Kau ubah menjadi orang yang menari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku kau ikat dengan sukacita” (v.12)  Hal itu mendorongnya berkomitmen untuk tidak goyah berpegang pada kekuatan dan pertolongan Tuhan. Lihat pernyataan dalam pujiannya “Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu” (v. 13)
Sahabat, ketika proses hidup kita mudah tidak jarang kita melupakan Tuhan, kita menjadi sombong dan menjauh dari Tuhan. Seakan kita tidak membutuhkan Tuhan, tetapi ketika kita masuk dalam proses hidup yang sulit kita menjadi goyah. Rahasia supaya kita tetap tidak goyah baik dalam proses hidup yang sulit atau mudah adalah  kita perlu menyadari bahwa kita lemah dan sangat bergantung kepada pertolongan Tuhan. Hal itu akan menolong kita untuk tetap komitmen mengikuti dan melayani Tuhan dengan setia apapun bentuk proses hidup kita, dan sebagai ganjaran dari kesetiaan dan kebergantungan kita kepada Tuhan, Dia akan mengubah ratap kita menjadi tari-tarian, dukacita menjadi sukacita. Mari tetap setialah kepada Tuhan selama-lamanya. Amin.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*