suplemenGKI.com

APABILA MARAH

Efesus 4: 26,27

 

Pengantar
Ada seorang tuan tanah yang menyukai bunga anggrek. Pada saat ketika hendak pergi berkelana, dia berpesan kepada bawahannya, harus hati-hati merawat bunga anggreknya. Selama kepergiannya, bawahannya dengan teliti memelihara bunga-bunga anggrek tersebut. Namun, pada suatu hari, ketika sedang menyiram bunga anggrek tersebut, tanpa sengaja menyenggol rak-rak pohon sehingga semua pohon anggrek berjatuhan & pot anggrek itu pecah berantakan & pohon anggrek berserakan.

Para bawahannya ketakutan, menunggu tuannya pulang & meminta maaf sambil menunggu hukuman yang akan mereka terima. Setelah sang tuan pulang mendengar kabar itu, lalu memanggil para bawahannya, dia tidak marah kepada mereka, bahkan berkata, “Saya menanam bunga anggrek, alasan pertama adalah untuk dipersembahkan kepada orang yang suka melihatnya & yang kedua adalah untuk memperindah lingkungan di daerah ini, bukan demi untuk marah, saya menanam pohon anggrek ini.”

Perkataan tuan ini sungguh benar, “Bukan demi untuk marah, maka menanam pohon anggrek.”

Salah satu tanda manusia baru  adalah mengendalikan amarah. Apakah kita telah bersikap tepat bila amarah hendak muncul? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 26: Bagaimanakah menghadapi keinginan untuk marah?
  • Ayat 27: Apakah yang harus diperhatikan bila terlanjur marah?

Dalam bagian ini, Paulus mengingatkan jemaat agar waspada terhadap kemarahan. Sesungguhnya marah adalah hal yang wajar sebagai salah satu bentuk ekspresi dari perasaan atau emosi.  Emosi dapat menimbulkan rasa sedih, kuatir, cinta dan bahkan marah.  Namun Alkitab memperingatkan:  “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”  (Efesus 4:26,27).  Boleh saja marah, tetapi jangan sampai membawa kita kepada dosa.  Umumnya orang menjadi marah ketika dirugikan, disakiti, tidak dihargai, dikecewakan atau dilecehkan, sehingga akhirnya timbul suatu keinginan untuk melakukan tindakan balas dendam.  Kemarahan semacam ini dapat mengakibatkan perpecahan, permusuhan, dan rusaknya sebuah hubungan.

Waspadalah terhadap bahaya kemarahan. Perhatikan, ada dosa mengintip dibalik kemarahan kita. Kemarahan biasanya masih bisa cepat diredam ketika masih baru kita rasakan, tetapi cobalah pendam dan biarkan kemarahan itu bertambah besar, pada suatu titik nanti kita tidak lagi sanggup meredamnya karena sudah terlalu besar dan disanalah dosa-dosa mengintip untuk menghancurkan kita.  Kemarahan yang kita biarkan berlarut-larut akan menjadi lahan permainan yang sangat menarik bagi iblis. Itu sama dengan membuka kesempatan bagi iblis untuk menjebak dan menjerumuskan kita. Dengan membiarkan kemarahan, itu artinya kita memberi ruang gerak seluas-luasnya bagi iblis untuk menari dan berpesta pora untuk membinasakan kita.

Refleksi
Dalam keheningan, berkacalah. Apakah wajah Saudara tampak manis dan lembut ataukah keras dan pemarah? Apakah ada kemarahan yang terpendam dalam hati Saudara? Bila ada, berdoalah dan berdamailah.

Tekadku
Ya TUHAN, mampukanlah aku untuk mengendalikan kemarahan. Jangan biarkan aku menyimpan kemarahan dalam hati. 

Tindakanku
Aku akan belajar menikmati kehadiran TUHAN dalam keheningan agar terbiasa bersikap tenang  hingga mampu mengendalikan kemarahan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«