suplemenGKI.com

Mazmur 103:6-14 

Kasih Sayang-Mu, s’lalu ‘Ku Rindu 

Meski semua orang percaya bahwa Tuhan itu maha penyayang. Tetapi tidak semua orang dapat menjelaskan bagaimana kasih sayang Tuhan itu. Karena itu kita patut bersyukur kalau Penulis Mazmur 103 ini dapat menjelaskan dengan baik tentang kasih sayang Tuhan itu, sehingga dapat menjadi bahan perenungan yang bagus untuk kita hari ini.

-  Pernahkah Saudara melihat seorang ayah menghukum anak yang begitu dikasihinya? Bagaimana Saudara menjelaskan hubungan kasih dengan penghukuman tersebut?

-  Bagaimana Pemazmur menggambarkan kasih sayang Tuhan dalam ayat-ayat yang kita renungkan hari ini? Apakah Saudara pernah mengalami kasih sayang Tuhan yang seperti penjelasan Pemazmur ini? Coba ceritakan kepada seseorang. 

Renungan

Mulai ayatnya yang keenam ini, Pemazmur berbicara tentang Tuhan. Ada beberapa tindakan Allah yang dipaparkan oleh Pemazmur, tapi topik yang mendominasi adalah tentang kasih setia-Nya terhadap orang berdosa. Pemazmur berkata, “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (ay. 8). Beberapa ahli Kitab menghubungkan pernyataan Pemazmur ini dengan pernyataan Tuhan kepada Musa di gunung Sinai, “Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,” (Kel. 34:6). Pemazmur mengkonkritkan konsep ini dengan menjelaskan bagaimana sikap Tuhan terhadap orang berdosa. Tuhan itu tidak selalu menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam (ay. 9). Karena sifat-Nya yang maha kudus, maka Dia murka apabila manusia berbuat dosa. Namun murka Tuhan itu tidak terus menerus. Nabi Yeremia juga diutus Tuhan untuk menyampaikan berita tentang kemurahan hati Allah ini, “Pergilah menyerukan perkataan-perkataan ini ke utara, katakanlah: Kembalilah, hai Israel, perempuan murtad, demikianlah firman TUHAN. Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman TUHAN, tidak akan murka untuk selama-lamanya.” (Yer. 3:12).

Kemurahan hati Allah menjadi nyata ketika Dia tidak melampiaskan murka-Nya dengan semena-mena. Bahkan sebenarnya murka Allah itu tidak sebanding dengan dosa yang telah kita perbuat. Sebagai perbandingannya, Pemazmur mengatakan setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Kasih sayang Allah ini kemudian dianalogikan sebagai kasih sayang seorang bapa kepada anaknya. Seorang bapa yang tidak pernah mengingkari anaknya akan selalu menyayangi anaknya itu, sekalipun anaknya itu sangat nakal. Tentu saja sang bapa tetap akan menghukum si anak yang nakal tersebut, namun hukuman itu sendiri sebenarnya terbungkus oleh kasih sayang sang bapa.

Mengingat sedemikian besar kasih sayang Tuhan kepada orang berdosa, seharusnya tidak membuat kita menginjak-injak kasih sayang itu dengan cara terus hidup dalam dosa, melainkan seharusnya membuat kita seperti seekor anak ayam yang berlari ke bawah sayap induknya, terus memiliki kerinduan untuk berlindung kepada-Nya, seperti lagu PKJ 37, “Kasih sayang-Mu, perlindunganku; Di bawah naungan sayap-Mu, damai hatiku; Kasih sayang-Mu, pengharapanku; usapan kasih setia-Mu , s’lalu kurindu.” 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«