suplemenGKI.com

KAMIS, 8 MEI 2014

07/05/2014

Mazmur 23:4-6

BERPENGALAMAN DENGAN ALLAH (Bagian 2)

 

Pengantar
“Tuhan pimpin hidupku, agar jangan ku sesat.  Agar jauhlah seteru, bila Kau tetap dekat.  Tuhan, pimpin, arus hidup menderas. Agar jangan ku sesat.  Pegang tangan ku erat.”  Pasti jemaat tahu lagu ini bukan?  Yang menarik adalah pada frasa “agar jauhlah seteru, bila Kau tetap dekat”.  Pertanyaannya adalah benarkah bila Tuhan dekat, maka seteru dan semua persoalan dalam hidup menjadi hilang?  Mari kita lihat pengakuan Daud yang telah berpengalaman dengan Allah.

Pemahaman
Ayat 4-5: pengalaman seperti apakah yang dituliskan pemazmur?  Dan apa yang pemazmur rasakan ketika pengalaman itu terjadi?
Ayat 4-6:  apa yang pemazmur pahami dan alami tentang Allah dalam pergumulan hidupnya?
Ayat 6:  apa komitmen pemazmur kepada Allah?

Mungkin lagu yang tepat menggambarkan pengalaman pemazmur dalam bagian ini adalah, “jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat.  Namun kasih Tuhan nyata, pada waktu yang tepat”.  Ya, kehidupan beriman sama sekali tidak bebas dari pergumulan hidup.  Sakit, kekurangan, penderitaan, kedukaan dan lain-lain akan turut mewarnai perjalanan orang Kristen; selain tentunya pengalaman sehat, sembuh, kelimpahan, dan kesukacitaan.  Kedua hal tersebut juga dialami pemazmur.  Selain pemazmur merasakan “takkan kekurangan”, keadaan yang “berumput hijau” dengan “air yang tenang”, ia juga mengalami “lembah kekelaman” serta keadaan yang berhadapan dengan “lawan”.  Yang menarik dua jenis pengalaman tersebut dialami pemazmur dengan Allah yang sama.  Apakah Allah tidak konsisten atau plin-plan sehingga seolah mempermainkan umatNya?  Tidak!

Kehadiran Allah sesungguhnya tidak bisa dibatasi oleh apapun. Dalam setiap keadaan dan tempat yang kita alami, baik ketika “berumput hijau” dan “air yang tenang” maupun “lembah kekelaman” tidak akan memisahkan Allah dari umatNya.  Kasih dan penyertaan Allah hadir secara penuh untuk memberikan kekuatan dan kemampuan menjalani semua keadaan itu.  Itu sebabnya, pemazmur berani berkata, “kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku.” Persoalannya apakah kita meyakini dan mau mengalami semua keadaan bersama Allah?  Artinya, tidak pilih kasih.  Hanya yang sukacita saja mau bersukacita, tetapi untuk keadaan yang sebaliknya mengeluh dan menyalahkan Allah.  Bedakan dengan pemazmur yang meskipun sudah mengalami pahit getirnya kehidupan, ia masih berkomitmen untuk “diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”  Adakah kita mau mengalami Allah di dalam segala keadaan yang Ia ijinkan terjadi?

Refleksi
Mari renungkan: apakah dalam keadaan apapun kita masih mau bersyukur dan merasakan kehadiran Allah?  Menyakini dan bersyukur kepada Allah berarti dalam keadaan apapun tidak mengeluh dan menyalahkan Allah. 

Tekadku
Tuhan tolonglah aku untuk bersyukur kepadaMu, tidak mengeluh walau hari ini penuh awan pergumulan.  Tologlah hatiku, kuatkan tekadku.

Tindakanku
Aku tidak mengeluh hari ini untuk ………. (keadaan yang masih belum berubah, pergumulan atau persoalan yang belum selesai, sakit yang aku alami).  Aku ijinkan Tuhan berkarya leluasa, ku buka hatiku untuk mengalami kasih Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»