suplemenGKI.com

Kamis, 8 Juni 2017

07/06/2017

Kemuliaan Allah Tritunggal

Mazmur 8:2-10

 

Pengantar

Hari ini perenungan kita berkaitan dengan kemuliaan. Apa yang terlintas di benak Saudara pada waktu mendengar kata “kemuliaan”? Bagaimana Saudara memberikan gambaran tentang kemuliaan? Kiranya kedua pertanyaan pengantar ini dapat mengarahkan diri kita pada perenungan hari ini.

 

Pemahaman

Ay. 2 – 10 : Kalau kita memperhatikan Mazmur 8 ini secara keseluruhan, adakah suatu keunikan yang Saudara lihat dari Mazmur ini?

Ay. 3 – 9    : Bagaimanakah respon Pemazmur ketika dia melihat kemuliaan Allah? Bagaimana pula kita dapat meneladani Pemazmur dalam merespon kemuliaan Allah?

Secara sastra, Mazmur 8 ini ditulis dengan cara inclusio, di mana pembuka dan penutup memiliki gagasan yang sama. Kalau kita memperhatikan ayat 2 dan 10, kita dapat melihat adanya persamaan isi, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!”. Kalimat tersebut menyiratkan adanya kekaguman akan kemuliaan Tuhan yang bukan hanya  memenuhi suatu lokasi tertentu, tetapi memenuhi seluruh alam semesta. Istilah yang dipakai Pemazmur untuk menggambarkan hal ini adalah, “…betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan…”.

Dahsyatnya kemuliaan Tuhan itu membuat Pemazmur menyadari betapa lemah dirinya. “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Respon Pemazmur ini bagaikan seorang yang memakai baju putih dan merasa bangga dengan ke-putih-an bajunya tersebut. Tapi kemudian ketika bertemu dengan seseorang yang memakai baju berwarna jauh lebih putih, ia baru menyadari betapa kotor baju putihnya itu. Hal seperti ini juga terjadi dalam beberapa peristiwa. Salah satunya adalah pengalaman nabi Yesaya. Pada waktu nabi Yesaya melihat kekudusan Tuhan, ia menyadari betapa berdosa dirinya sehingga berseru, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” (Yes. 6:5).

Refleksi

Pernahkah kita berjumpa dengan Allah? Apa yang menjadi bukti bahwa Saudara mengalami perjumpaan dengan Allah itu? Sebagaimana dijabarkan di atas, sebuah perjumpaan dengan Allah selalu memberikan dampak pengenalan diri yang lebih dalam, betapa lemahnya dia. Sejauh mana pengenalan diri yang sedemikian ini terjadi dalam hidup Saudara?

Tekad

Doa: Ya Tuhan, tolong saya untuk semakin mengenal-MU sehingga saya bisa tahu diri. Amin.

Tindakan

Saya akan berjuang semakin mengenal Allah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»