suplemenGKI.com

Kamis, 8 Juli 2021

07/07/2021

SUARA KENABIAN

Amos 7:7-15

Pengantar
Kejahatan dan ketidakbenaran masih ada di sekitar kita  walaupun  sebenarnya jumlah orang baik atau orang benar masih lebih banyak daripada orang jahat. Bila kita diam saja saat melihat kejahatan, maka sama artinya dengan membiarkan kejahatan terus bertumbuh kembang. Untuk menumpas kejahatan diperlukan peran serta kita semua. Namun beranikah orang yang mengaku benar dan baik menegur dan meluruskan jalan orang jahat dan tidak benar ? Bacaan Alkitab hari ini membekali kita. Marilah kita merenungkannya. 

Pemahaman

  • Ayat 7-9      : Apakah isi Firman TUHAN kepada Amos?
  • Ayat 10-13 : Mengapa Amazia tidak menyukai kehadiran Amos?
  • Ayat 14-15 : bagaimanakah tanggapan Amos terhadap sikap Amazia?

Amos adalah utusan  TUHAN untuk menyampaikan tegoran keras terhadap Israel pada zaman raja Uzia dan Yerobeam. Pada waktu itu ada banyak penyimpangan dalam agama dan masyarakat. Tindak kejahatan dan ketidakadilan merajalela. Oleh karena itulah TUHAN akan menaruh tali sipat di  tengah-tengah umat-Nya. Tali sipat dipakai ALLAH  untuk mengukur ketaatan bangsa Israel.  Tali sipat adalah bandul bertimah yang dipakai tukang batu untuk memastikan tegak lurusnya tembok bangunan sehingga dengan tali sipat, kemiringan dapat terlihat. Ini menjadi ilustrasi  yang menggambarkan TUHAN telah melihat perbuatan-perbuatan umat-Nya yang miring atau menyimpang. Mereka  melakukan penyuapan di pengadilan, pesta pora dan mabuk-mabukan, pelecehan seksual, penindasan kepada orang miskin

Amos diutus TUHAN untuk menyampaikan suara kenabian yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Oleh karena itulah ada pihak yang tidak menyukainya sebab suaranya keras  menghantam kebobrokan dan kejahatan.  Amazia, imam yang  melayani Yerobeam, mengusir Amos. Bagi Amazia, kehadiran Amos merugikannya. Bahkan Amos dianggap menjadi pesaing yang bisa bisa merebut rejekinya bila mungkin raja lebih mendengar Amos daripada dirinya. Bagi Amazia kenabian atau keimaman adalah soal “cari makan” (ayat 12).  Urusannya bukanlah membela umat dan menaati TUHAN tetapi memberi keyakinan-keyakinan palsu kepada raja.

Yang menarik adalah Amos menanggapi Amazia, Imam di Betel yang pro kekuasaan penindas dengan mengatakan bahwa dirinya bukan nabi karena tidak berasal dari golongan nabi. Dia hanyalah peternak dan pemungut buah ara hutan yang dipakai dan diutus TUHAN untuk menyampaikan suara kenabian. Artinya yang penting bukan status sebagai nabi tapi isi pesan Firman TUHAN yang disampaikan dalam suara kenabian.

Penjelasan Amos ini mengingatkan kita bahwa bukan hanya nabi yang diutus TUHAN menyampaikan suara kenabian. TUHAN bisa mengutus siapa saja untuk menyampaikan teguran atas ketidakbenaran , kejahatan dan ketidakadilan.

Refleksi:
Dalam keheningan, perhatikanlah kondisi kehidupan di lingkungan sekitar Saudara, adakah kejahatan, ketidakadilan, ketidakbenaran yang terjadi? Apakah Saudara mau diutus TUHAN untuk menyampaikan suara kenabian yang meluruskan kehidupan mereka?

Tekadku
Ya TUHAN, berikanlah aku keberanian dan hikmat untuk menyampaikan suara kenabian bagi sekitarku dengan cara dan perkataan yang tepat.

Tindakanku
Aku akan belajar menyuarakan suara kenabian dengan memulai dari lingkungan terdekat. Dengan penuh kasih aku akan menyampaikan nasihat atau teguran kepada keluarga yang hidup tidak benar agar bertobat dan kembali hidup di jalan TUHAN.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»