suplemenGKI.com

Mazmur 146:1-5.

 

Hidup Untuk Memuliakan Tuhan

Pengantar:
Waktu hidup manusia di dunia ini ada yang panjang dan ada yang pendek. Panjang pendeknya waktu manusia hidup bukanlah hal yang terlalu penting. Tidak ada gunanya manusia hidup begitu lama tetapi tidak berdampak positif bagi sesama. Di lain sisi walau pun waktu hidup hanya singkat namun memberi dampak positif bagi sesama dan ciptaan yang lain, itulah yang dimaksud hidup untuk memuliakan Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita akan memilih untuk hidup memuliakan Tuhan atau untuk kesenangan, kenikmatan dan kekuasaan diri sendiri dalam menjalani waktu hidup kita? Dalam bacaan Mazmur 146:1-2, pemazmur telah memilih hidup hanya untuk memuliakan Tuhan, bagaimana dengan saudara?

Pemahaman:

  1. Apakah yang hendak ditunjukkan oleh pemazmur dalam pernyataannya di ayat 1-2?
  2. Mengapa pemazmur kemudian menjatuhkan pilihan untuk memuliakan Tuhan? (v. 3-5)

Mazmur 146 ini merupakan mazmur nyanyian pujian yang sangat menarik, karena diawali dan diakhiri dengan kata “Haleluya” Hal itu menunjukkan bahwa apa yang menjadi pujian dari mazmur 146 ini merupakan suatu yang tidak main-main, melainkan mewakili hidup dan apa yang dilakukan pemazmur dalam menjalani hidupnya. Ayat 1-2, merupakan janji pemazmur bahwa hidupnya adalah untuk memuliakan Tuhan. Kalimat “Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup” merupakann sebuah janji kepada Tuhan yang dinyatakan dengan kata-kata yang mutlak, artinya pemazmur siap untuk melakukannya. Tekad untuk melakukan hidup yang memuliakan Tuhan itu bukan hanya janji sesaat, melainkan selama ia masih hidup dan selama ia masih ada di dunia ini. Sungguh merupakan sebuah komitmen yang patut kita teladani.

Mengapa pemazmur berkomitmen begitu kuat untuk memuliakan Tuhan dalam hidupnya? Ada dua alasan penting, Pertama: Pemazmur menyadari bahwa manusia itu lemah dan tidak berdaya (v.3) terutama jika dikaitkan dengan hidup dalam keberdosaan. Pemazmur menghayati betul bahwa manusia penuh dosa dan akan binasa karena dosa itu. Namun ketika ia menyadari bahwa ada Allah yang berkemurahan untuk meyelamatkannya sehingga boleh mengalami keselamatan, maka konsekuensi logisnya ia harus memuliakan Tuhan dalam seluruh hidupnya. Ke dua: Kemasyuran manusia itu tidak dapat diandalkan (v.4) Sehebat apapun manusia tetap tidak bisa menyelamatkan dirinya dari dosa. Bahkan semua manusia akan mati dan apa yang menjadi kehebatannya akan berakhir pula. Maka jangan pernah kita terlalu berharap kepada manusia, andalkan Tuhan dalam senantiasa hidup ini.

Refleksi:
Coba merenung sejenak, untuk apakah saudara hidup? apakah untuk memuliakan Tuhan?

Tekad:
Tuhan Yesus, saya menyadari bahwa hidup ini singkat, namun ajarlah agar saya mempergunakan waktu hidup saya ini untuk memuliakan Engkau.

Tindakkan:
Mulai mengarahkan hidup bukan untuk kesenangan diri sendiri tetapi untuk memuliakan Tuhan, melalui hidup yang memperkenankan hati Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«