Kamis, 7 Mei 2009

Kisah Para Rasul 8:26-40

Filipus adalah salah seorang rasul yang sangat responsif terhadap Amanat Agung  TUHAN YESUS untuk  pergi mengabarkan Injil . Bukti dari keseriusan Filipus dalam menanggapi Amanat Agung itu ialah kerinduannya untuk bisa menjangkau tidak hanya bangsa Yahudi melainkan orang-orang kafir (Samaria, dsb). Dan rupanya pelayanannya di kalangan orang-orang Samaria telah mendapat sambutan yang antusias  hingga membawa “sejumlah besar” orang Samaria itu untuk percaya dan menerima Kristus sebagai Juruselamat (Kisah Para Rasul 8:5-8). Namun, meski Filipus tengah berada dalam “kawasan sukses” dalam pelayanannya, dia tetap memilih taat ketika TUHAN mengutusnya pergi “hanya” kepada satu orang saja, yakni Sida-sida dari Etiopia itu.

·         Ayat  27-28          :Siapakah sida-sida dari Etiopia itu?

·         Ayat 29-39           : Bagaimanakah sikap Filipus ketika hanya dipercayai pelayanan yang kecil

(dibanding sejumlah penduduk Samaria, tentu seorang Etiopia ini nampak

sangat tak sebanding)

·         Ayat 40                                : Apa kesan atau tanggapan saudara terhadap ayat ini?

Renungan:

Menilik pengalaman Filipus, yang begitu semangat  ketika mengabarkan Injil di Samaria dan sesaat kemudian ia begitu taat juga untuk pergi mengabarkan Injil walau hanya pada satu orang saja, yaitu seorang sida-sida (yang juga penanggung jawab keuangan Ratu Kandake dari Etiopia) ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari Filipus: Bahwa bagi Filipus tidak ada pelayanan yang lebih mulia atau lebih rendah di mata TUHAN. Semua bentuk pelayanan, entah nampak besar ataupun kecil, semuanya harus mengarah pada satu tujuan yaitu memuliakanNya. Sikap Filipus dalam melayani sida-sida itu sama antusiasnya ketika ia melayani jemaat/ kelompok orang yang lebih besar jumlahnya. Hal positif tentang prinsip pelayanan yang kita ambil dari pengalaman Filipus bersama sida-sida Etiopia itu antara lain: -ayat 30 : Filipus mengambil inisiatif aktif dalam melayani jiwa yang akan dibawa kepada Kristus. -ayat 35-39 : Filipus memiliki komitmen dan dedikasi yang tinggi sehingga dia dengan tekun menuntun jiwa yang dilayaninya agar sungguh-sungguh sampai pada pengenalan akan Kristus.

                Satu hal lagi yang bisa kita pelajari dari peristiwa yang dicatat dalam Kisah Rasul 8:26-40 ini, khususnya di ayat 40 ketika TUHAN segera melarikan Filipus dan pergi ke Asdod ialah : sepertinya TUHAN tidak mengijinkan Filipus untuk menghabiskan waktu untuk menikmati pujian/kekaguman akibat “kesuksesannya dalam pelayanan”. Itu sebabnya TUHAN mengarahkannya untuk terus berkarya semata bagi kemuliaan ALLAH saja. Alangkah indahnya jika kita semua menjadi Filipus-Filipus zaman sekarang yang tahu bagaimana harus bersikap dalam pelayanan.

“Saat kita mencuri kemuliaanNya, kita sedang menghancurkan ladangNya, tapi

Saat kita mencari kemuliaanNya, kita sedang menyuburkan ladangNya”

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*