suplemenGKI.com

MEMANDANG MUKA: BUKAN EKSPRESI IMAN YANG SEJATI

Yakobus 2:1-7

 

Pengantar
Mahatma Gandi adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan yang saat itu adalah koloni Inggris. Suatu ketika ia masuk ke sebuah gedung gereja karena tertarik dengan Yesus dan ingin belajar tentang kekristenan. Ia pun bertemu dengan seorang penatua. Ketika penatua itu melihat bahwa Mahatma Gandi berkulit hitam, ia diusir dari gereja tersebut. Sejak saat itu ia mengurungkan niatnya untuk menjadi seorang Kristen. Saudara, sikap memandang muka adalah sikap yang dapat merobohkan relasi antar sesama manusia. Bahkan sikap memandang muka juga bukanlah ekspresi iman yang sejati dari orang percaya yang sudah ditebus oleh Kristus.

Pemahaman

  • Ayat 1             : Apa maksud dari nasehat Yakobus, “… janganlah iman itu kamu andalkan dengan memandang muka?”
  • Ayat 2-4         : Bagaimanakah Yakobus memberikan contoh tentang sikap memandang muka yang dilakukan dalam perkumpulan jemaat?
  • Ayat 5-7         :  Bagaimanakah Yakobus menegor dan mengingatkan tentang sikap memandang muka yang terjadi dalam perkumpulan jemaat?

Di ayat pertama, Yakobus mengingatkan kepada para jemaat, “janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka”. Iman berbicara tentang kepercayaan. Sebagai seorang pengikut Kristus, kita tidak diperkenankan untuk mengamalkan iman dengan memandang muka. Ketika orang percaya memiliki komitmen yang dibangun bersama Tuhan, hendaknya hubungan yang dibangun dengan orang lain jangan sampai rusak karena sikap memandang muka. Memiliki relasi dengan sesama, sama halnya dengan membangun hubungan dengan Tuhan. Yakobus telah memberikan satu contoh di mana ada seorang kaya dan miskin masuk ke dalam kumpulan di mana orang-orang Kristen berbakti bersama (ayat 2-4). Perbedaan tersebut terlihat dari cara mereka berpenampilan. Orang kaya mendapat perlakuan secara hormat, sedangkan orang miskin mendapat perlakuan yang tidak hormat. Yakobus memberikan perbandingan bahwa apa yang mereka lakukan tersebut sama seperti seorang hakim yang tidak adil. Inilah contoh bagaimana mereka bersikap dalam hal memandang muka. Oleh sebab itu, dengan memberikan satu contoh yang demikian, Yakobus melanjutkan dengan mengatakan, “Allah memilih orang miskin untuk dijadikan kaya dalam iman, dan dijadikan ahli waris Kerajaan Surga” (ayat 5). Kata memilih ini ada kaitannya dengan iman. Orang yang dianggap miskin dan diabaikan oleh dunia karena tidak mendapatkan status, dijadikan kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan Surga. Sejatinya, Allah memilih seseorang bukan berdasarkan kaya atau miskinnya seseorang, melainkan berdasarkan kehendak-Nya.

Refleksi
Iman yang dimiliki harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai umat pilihan Allah, kita diminta untuk melakukan tindakan kasih bagi orang lain. Dengan demikian, tak ada lagi perbedaan yang akan merusak relasi dengan sesama.

Tekadku
Tuhan, ampuni bila terkadang aku membuat perbedaan-perbedaan yang dapat membuat hubungan dengan sesamaku menjadi rusak. Aku mau mengekspresikan imanku dengan melakukan kebaikan bagi orang lain.

Tindakanku
Hari ini aku akan melakukan satu tindakan kebaikan bagi salah seorang tetangga atau teman gereja yang membutuhkan perhatian khusus

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«