suplemenGKI.com

I Korintus 2:1-8

 

Pemberitaan Firman yang Mendorong Terjadinya Transformasi

 

Pengantar
Pada masa Rasul Paulus, umat di Korintus sangat suka dengan pengkhotbah yang bergaya bicara seorang orator. Mirip dengan itu, bukankah umat Tuhan masa kini pun masih banyak yang lebih suka mendengar pengkhotbah yang “entertaining” (menghibur) daripada pengkhotbah dengan pengajaran yang “solid” (seperti makanan keras yang perlu dicerna) berdasarkan hikmat Allah. Yang disebut terakhir seringkali dirasa kurang menarik dibandingkan dengan khotbah dengan kata-kata yang enak didengar dan terasa meyakinkan berdasarkan hikmat manusia. Padahal salah satu tujuan utama pemberitaan Firman Tuhan adalah menginspirasi dan mendorong para pendengarnya agar mengalami perubahan hidup menjadi semakin serupa dengan Kristus. Paulus dengan pengalaman hidup pribadinya yang sudah ditransformasi Tuhan sendiri (Kisah Para Rasul 9: 1-20) sangat menekankan pada kekuatan Roh (bukan pada kata-kata yang indah dan enak didengar) agar iman para pendengarnya tidak bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah (1 Korintus 2:5).

Pemahaman

Ayat 1-2               :  Apa yang dimaksudkan oleh Paulus dengan mengatakan “aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat (manusia)” dan juga kata-kata”aku memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Kristus”? Bacalah Kisah Para Rasul 18:1-17.

Ayat 3                    :  Mengapa Paulus mengatakan bahwa saat itu ia datang dengan sangat takut dan gentar?

Ayat 4-5               :   Sebagai ganti kata-kata hikmat yang menyakinkan manusia, apa yang dipakai oleh   Paulus untuk menyanpaikan Firman Tuhan? Apa alasan Paulus melakukan hal itu?

Ayat 6-8               :   Apa yang dimaksudkan oleh Paulus dengan “hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia sehingga tidak ada penguasa dunia yang mengenalnya”?

Dalam suratnya ini Rasul Paulus merujuk pada peristiwa ketika ia berkunjung ke Korintus untuk memberitakan firman (bacalah Kisah Para Rasul 18:1-17). Rupanya sepeninggal Paulus, banyak ahli-ahli pidato dan filsafat di Korintus yang kemudian membicarakan tentang Paulus sebagai pengajar yang “lemah” dan “terbatas” pengetahuannya karena pengajarannya tidak menggunakan kata-kata yang meyakinkan manusia dan hanya seputar Kristus dan salibNya. Sebagai seorang mantan Farisi dan murid Gamaliel (Kisah Para Rasul 22:3), Paulus tak mungkin tidak dipersiapkan dan mustahil tak memiliki kemampuan berbicara secara meyakinkan. Namun ia memilih menggunakan hikmat Allah dan kekuatan Roh yang mampu mengubahkan kehidupan (life transformation) daripada sededar kata-kata indah namun tanpa kuasa transformatif.

Refleksi
Apakah selama ini aku cenderung lebih suka mengikuti ibadah dan mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan yang bersifat “entertaining” (menghibur) daripada harus berkonsentrasi dan belajar memahami pesan Tuhan dengan upaya khusus?

Tekad
Jika selama ini aku cenderung lebih menikmati khotbah yang “ringan”, “menghibur” dan “menyenangkan”, maka mulai saat ini aku mau lebih bersungguh-sungguh memperhatikan inti pesan khotbah dan memahami kuasa transformatif yang ada di dalamnya sekalipun itu disampaikan dengan keras dan bersifat menegur.

Tindakan
Aku tidak lagi mencari pemberita-pemberita firman yang “entertaining” sebaliknya belajar menghargai siapapun pembicara yang Tuhan utus dengan meminta Roh Kudus menolongku memahami dan menerapkan Firman Tuhan sehingga hidupku diubahkan menjadi semakin seperti Kristus. 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«