suplemenGKI.com

Efesus 4:30-5:2

HATI SEORANG ANAK

PENGANTAR
Kita tahu bahwa hidup dalam kasih adalah perintah Allah bagi kita. Kita pun tahu bahwa perintah ini baik untuk kita lakukan dalam hidup berkeluarga, dalam pelayanan, dalam lingkungan pekerjaan, dan di masyarakat pada umumnya. Namun, ini bukan perintah yang selalu mudah untuk dilakukan. Jika kita harus mengasihi orang yang telah menunjukkan kasihnya kepada kita, tentu tidak terlalu sulit. Kita mengasihi orang tersebut karena kita ingin membalas budi baiknya. Selain untuk membalas budi, kita juga sering merasa terpaksa harus mengasihi seseorang karena posisi kita atau situasi kitalah yang memaksa kita untuk melakukannya. Misalnya, seorang istri yang merasa terpaksa harus tetap mengasihi suaminya yang telah berulang-kali menyakiti hatinya. Kita tidak dapat hidup dalam kasih jika hanya mengandalkan kasih balas budi atau dengan kasih yang terpaksa.

PEMAHAMAN

Ef. 5:1          Apa yang dimaksudkan Paulus dengan “penurut-penurut Allah”? Apa yang dimaksudkan Paulus dengan “anak-anak yang kekasih”? Apa hubungan/ kesamaan di antara keduanya?

Ef. 5:2          Dalam hal apakah kita menjadi penurut-penurut Allah? Mengapa Kristus Yesus menjadi standar/acuan dalam hal ini?

Penurut-penurut Allah adalah orang-orang yang melakukan perintah-perintah Allah dengan penuh sukacita, bukan dengan terpaksa. Padanan yang digunakan Paulus di sini adalah “anak-anak yang kekasih”, artinya anak-anak yang dikasihi atau anak-anak yang hidup dalam kasih. Jika seorang anak merasakan kasih dari ayah atau ibunya (atau, mereka hidup dalam kasih), maka sang anak akan menuruti perkataan orang tuanya dengan penuh sukacita, bukan karena terpaksa.  Karena itulah di ayat-ayat sebelumnya (4:30-32) Paulus menasihati jemaat Efesus agar mereka membuang kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah di antara mereka . Semua itu harus disingkirkan karena telah merusak kasih yang seharusnya bertumbuh di antara mereka.

Perintah Allah harus kita lakukan dengan penuh sukacita sebagai orang-orang yang telah merasakan kasih-Nya. Ini penting karena perintah Allah yang dimaksudkan di sini adalah perintah untuk hidup di dalam kasih, atau perintah untuk saling mengasihi. Kita hidup di dalam kasih bukan karena mereka adalah orang-orang yang selalu mengasihi kita, melainkan karena kita telah merasakan kasih Allah kepada kita. Hidup di dalam kasih tidak dapat diwujudkan dengan terpaksa. Juga, bukan karena kita hendak saling membalas budi. Hidup dalam kasih dimulai dari kerelaan kita berkorban, mengasihi orang-orang yang tidak/ kurang mengasihi kita. Itulah sebabnya, Kristus Yesus menjadi acuan atau standar dalam hal ini.

REFLEKSI
Apa yang selama ini mendorong Anda mengasihi orang lain? Karena terpaksa? Atau, karena ingin membalas budi? Tindakan kasih yang dilakukan karena terpaksa atau karena ingin balas budi akan membuat kita menderita. Tindakan kasih yang kita lakukan karena kita telah merasakan kasih Tuhan akan mendatangkan sukacita.

TEKADKU
Tuhan, penuhilah aku dengan kasih-Mu agar aku mampu untuk lebih dahulu mengasihi orang yang tidak/ kurang mengasihiku.

TINDAKANKU
Hari ini aku akan mendoakan tiga orang yang selama ini tidak/ kurang mengasihiku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«