suplemenGKI.com

Amos 5:18-24

BERIBADAH DALAM KEBENARAN DAN KEADILAN

 

Pengantar
Amos merupakan nabi yang berasal dari Tekoa yang tidak jauh jaraknya dari Yerusalem. Amos merupakan nabi yang dikenal di kerajaan utara berbeda dengan Yeremia yang bernubuat di kerajaan Selatan. Perhatian utama Amos terletak pada sikap hidup orang Israel yang menindas mereka yang miskin dan tidak berdaya. Apabila melihat bagaimana kehidupan sosial politik ekonomi pada masa itu, kerajaan utara berada dalam situasi yang baik dan aman. Namun perilaku kekerasan dan penindasan terhadap mereka yang miskin dan tidak berdaya masih terjadi.

Pemahaman

Ayat 18 – 20        Mengapa hari Tuhan yang disampaikan oleh Amos justru menggambarkan kengerian sehingga Amos mengutuk orang yang mengharapkan terjadinya Hari Tuhan ?

Amos memahami bahwa hari Tuhan adalah hari dimana Allah akan menghakimi dan menghukum umat-Nya. Hal ini jauh berbeda dengan pemahaman orang-orang Israel yang memiliki tradisi bahwa hari Tuhan adalah hari kedatangan Panglima Perang yang hebat dan berkuasa yang akan mengalahkan dan menghakimi musuh-musuh Israel. Amos meruntuhkan pemahaman itu dan memaknai ulang hari Tuhan  sebagai hari penghakiman umat. Hari dimana Allah akan bertindak menghakimi umat yang hidup menyimpang dan berdosa. Itu sebabnya Amos berulang mengatakan bahwa hari Tuhan itu adalah hari kegelapan.

Apa yang dilakukan Amos sebenarnya bertujuan untuk mengutuk sikap hidup orang-orang Israel yang kelihatan baik-baik saja. Seolah tidak ada yang terjadi. Padahal Amos menyaksikan dengan matanya bahwa meski umat beribadah kepada Allah, namun hidup mereka justru menyimpang dari jalan kebenaran dan keadilan. Penindasan kepada orang miskin dan tidak berdaya terjadi, ketidakadilan dipraktekkan tanpa rasa takut kepada Allah.

Amos mengingatkan umat Tuhan saat ini bahwa ibadah kepada Allah harus sejalan dengan praktek iman. Ibadah kepada Allah harus sejalan dengan perilaku hidup yang benar dan adil. Keduanya harus seimbang. Amos menyampaikan kritik yang keras kepada bangsa Israel bahwa ibadah yang mereka lakukan hanyalah kepalsuan karena hanya dilakukan secara seremoni tetapi tidak aktual dalam kehidupan sehari hari. Amos mendorong setiap orang agar membangun ibadah yang benar, ibadah yang tidak hanya menaikkan puji-pujian dan persembahan, tetapi juga hidup benar seturut kehendak Allah dan menunjukkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

Refleksi
Ibadah yang sejati adalah ibadah yang tidak hanya dilakukan dalam gedung ibadah tetapi juga dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya harus seimbang agar nyata iman percaya kepada Allah. Tidak mungkin kita hanya melakukan keadilan dan kebenaran namun melupakan ibadah ceremoni setiap hari minggu. Keduanya harus berjalan seimbang.

Tekadku
Ya Allah, mampukan kami untuk tidak hanya tekun beribadah tetapi juga melakukan kehendak-Mu dalam kehidupan kami setiap hari. Jangan biarkan kami menindas sesama kami. Jangan biarkan kami berlaku semena-mena kepada orang lain. Namun mampukan kami untuk menghadirkan kasih-Mu

Tindakanku
Tekun dalam ibadah minggu, ibadah sektor dan ibadah lain. Mempraktekkan sikap yang selalu menyayangi keluarga, memperhatikan tetangga, menolong yang berkesusahan, dan mendoakan yang terbeban

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«