suplemenGKI.com

Kamis, 5 Maret 2015

04/03/2015

1 Korintus 1:18-25

 

Salib adalah Wujud Hikmat Allah

 

Pengantar
“Jalan-Mu tak terselami, oleh setiap hati kami…” sepenggal syair sebuah lagu ini menyiratkan adanya perbedaan antara pikiran Allah dan pikiran manusia. Dalam perenungan hari ini, kita akan belajar bagaimana seharusnya bersikap agar perbedaan itu tidak menjadi jurang pemisah antara Allah dan kita.

Pemahaman
- ay. 18-23      : Mengapa pemberitaan salib adalah suatu kebodohan bagi mereka yang akan binasa? Siapa pula yang dimaksud dengan “mereka” di sini?

- ay. 19-20      : Bagaimana rasul Paulus menjawab tuduhan “kebodohan” yang dilontarkan terhadap pemberitaan salib itu?

Ungkapan bahwa pemberitaan salib merupakan kebodohan adalah ungkapan yang ditujukan rasul Paulus bagi orang-orang bukan Yahudi, “kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,” (1Kor. 1:23). Sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang bukan Yahudi di sini adalah orang-orang Yunani, termasuk mereka yang pola pikirnya dipengaruhi kebudayaan Yunani. Kebodohan di sini sebagai lawan dari hikmat yang diagung-agungkan oleh orang Yunani. Memang ada banyak para pemikir Yunani yang kita sebut filsuf. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang Yunani sangat mengagungkan pemikiran atau hikmat. Sayangnya, di dalam hikmat itu mereka menganggap salib sebagai suatu kebodohan.

Dalam pemikiran Yunani, berita tentang salib merupakan suatu berita kebodohan karena tidak sesuai dengan pemikiran mereka. Bagi mereka, yang pantas disalib adalah seorang budak. Itu berarti kalau mereka mempercayai Kristus yang disalib, sama berarti mempercayai seorang budak. Tentu saja hal ini tidak dapat diterima “akal sehat” mereka. dan itulah sebabnya mereka sulit untuk percaya kepada Kristus.

Menghadapi keadaan yang demikian, rasul Paulus menegaskan bahwa hikmat Allah jauh melebihi hikmat manusia. “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia” demikian penegasan rasul Paulus dalam ayat 25. Melalui kalimat tersebut rasul Paulus bukan ingin menghina ilmu pengetahuan atau hikmat manusia, melainkan bahwa manusia tidak dapat mengukur hikmat Allah dengan hikmatnya sendiri. Adalah suatu hal yang ironis bila manusia menolak Allah karena Dia tidak dapat masuk ke dalam ukuran (baca: dipahami) hikmat manusia. Bukankah kalau Allah dapat sepenuhnya dipahami manusia itu berarti bahwa Allah lebih kecil daripada hikmat manusia? Lalu, kalau demikian halnya, untuk apa kita memiliki Allah yang lebih kecil dari kita? Bagaimana mungkin kita mau mempercayakan hidup kita kepada pribadi yang lebih kecil dari kita?

Refleksi
Kenyataan bahwa hikmat Allah jauh melampaui hikmat manusia, menuntut kita untuk merendahkan diri di hadapan Allah. Tanpa sikap merendahkan diri itu maka kita akan sulit untuk memahami hikmat Allah.

Tekad
Doa: Ya Tuhan, tolonglah saya agar bukan hanya mau membuka pikiran, tetapi juga mau merendahkan diri di hadapan-Mu. Amin.

Tindakan
Hari ini saya akan belajar merendahkan diri dengan bersyukur tatkala tak mampu memahami rencana Tuhan.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«