suplemenGKI.com

Kamis, 5 Juli 2018

04/07/2018

SEMAKIN BERISI, SEMAKIN MERUNDUK

2 Korintus 12:2-6

 

Pengantar
Ada peribahasa yang berkata demikian: “Seperti padi, kian berisi kian merunduk”. Peribahasa ini mengandung makna semakin tinggi ilmu atau pengetahuan yang dimiliki seseorang, maka semakin rendah hatinya. Melalui peribahasa ini kita diingatkan bahwa semakin tinggi apa yang kita peroleh saat ini, jangan hendaknya menjadi suatu kesombongan dan kemegahan. Saudara, rasul Paulus yang kita kenal dalam Alkitab merupakan misionaris yang luar biasa. Jika kita mengikuti bagaimana perjalanan  dan perubahan hidupnya, menunjukkan bahwa ia bukan seorang yang tinggi hati atas keberhasilannya. Justru dalam perjalanan pelayanannya, ia semakin mengenal Tuhan lebih dalam. Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 2-4         : Penglihatan dan penyataan apakah yang dialami oleh Paulus?
  • Ayat 5-6         : Bagaimanakah Paulus menanggapi penglihatan dan penyataan yang dialami ?

Kitab 2 Korintus secara keseluruhan ditulis oleh Paulus, untuk mempersiapkan kunjungannya yang ke dua di Korintus. Saat itu Paulus sedang berada di Makedonia. Oleh golongan-golongan tertentu di Korintus, kerasulan  Paulus sedang dipertanyakan agar sebagian jemaat dapat menolaknya. Penerimaan Paulus sebagai rasul bukan yang mudah, karena yang menolak tak lain adalah murid Kristus sendiri. Dalam 2 Korintus 10:10, para penentang Paulus mengganggap bahwa Paulus tidak ada apa-apanya: “surat-suratnya tegas dan keras, tetapi ketika berjumpa dengan orang sikapnya lemah dan kata-katanya tidak berarti”.Para penentangnya di Korintus beranggapan bahwa Paulus tidak memiliki daya tarik yang khusus sebagai seorang pekabar Injil.

Oleh karena itulah, Rasul Paulus mempertahankan kehormatan kerasulannya dengan menceritakan penglihatan dan penyataan yang dialaminya: tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga (ayat 2b), tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia (ayat 4). Bagi orang lain yang mengalami penyataan ini mungkin akan membangga-banggakannya. Tetapi tidak  demikian dengan Paulus. Ia menyampaikannya dengan bersahaja dan rendah hati. Paulus menahannya sampai empat belas tahun kemudian (ayat2). Paulussebenarnya merasa enggan dan terpaksa melakukannya karena alasan yang cukup penting, yaitu untuk mempertahankan kerasulannya. Menariknya, Paulus tidak berkata secara langsung:“akulah itu orang yang menerima kehormatan melebihi orang lain”. Justru ia berusaha untuk menahan dirinya (ayat 6). Keberhasilan yang dialami oleh Paulus bukan membuatnya untuk meninggikan diri. Ia menyadari bahwa apa yang dialaminya hanya karena anugerah Tuhan saja.

Refleksi
Tutuplah mata, hembuskan nafas secara perlahan, dan pikirkan: Apa yang saat ini sedang saudara banggakan dalam hidup? Bagaimana respon orang lain terhadap apa yang saudara banggakan? Saudara, ingatlah bahwa apa yang kita dapatkan saat ini hanya sementara. Tujuan hidup adalah memuliakan nama Tuhan, bukan untuk mencari kebanggaan atas diri sendiri.

Tekadku
Tuhan ampuni aku jika selama ini aku terlalu memegahkan diri atas keberhasilan yang ku raih. Aku mau menjadi pribadi rendah hati yang menghargai kebaikan Allah dalam hidupku.

Tindakanku
Mulai hari ini aku belajar meninggalkan kebiasaan untuk tidak menyombongkan atau membanggakan diri atas keberhasilan yang ku raih di depan orang lain. Dengan rendah hati aku mau bersyukur atas apa yang Tuhan beri padaku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»