suplemenGKI.com

Kamis, 5 Juli 2012.

04/07/2012

2 Korintus 12:2-6.

 

Kebenaran Allah Menjadi Nyata Melalui Utusan Yang Rendah Hati

            Setiap orang yang merasa mempunyai kemampuan, kelebihan atau keahlian lebih dari orang lain sedikit banyak itu menjadi dasar dalam ia menjalani hidupnya. Tentu itu bukan suatu masalah atau kesalahan, karena Tuhan memberikan kemampuan, kelebihan atau keahlian memang bertujuan untuk di pergunakan sebagai dasar melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya maupun bagi orang lain. Namun kemampuan, kelebihan atau keahlian bisa menjadi sebuah masalah jika tidak lagi dipergunakan untuk menjadi dasar bertindak bagi sesuatu yang bermanfaat. Apalagi kemampuan, kelebihan atau keahlian itu malah menjadi alat memegahkan diri, menyombongkan diri atau merendahkan orang lain. Jika itu yang terjadi maka yang bersangkutan tidak lagi memahami bahwa kemampuan, kelebihan atau keahlian yang dimilikinya itu adalah berasal dari Tuhan, melainkan memandangnya sebagai kehebatan dirinya sendiri. Hari ini kita belajar dari Rasul Paulus, bagaimana ia tetap bersikap rendah hati sekalipun seharusnya dia pantas untuk bermegah karena setiap kemampuan, kelebihan, keahlian yang dia miliki.

 

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

  1. Pengalaman apa dan tentang siapa yang dipaparkan oleh Rasul Paulus dalam ay. 2-4?
  2. Sikap apa yang hendak ditonjolkan oleh Rasul Paulus, ketika dia mengungkapkan tidak ingin bermegah atas dirinya?
  3. Setiap kita pasti mempunyai kemampuan, kelebihan dan keahlian tertentu dalam diri kita. Sikap apa yang terbaik yang harus kita tunjukkan agar melalui apa yang kita miliki itu menjadikan hidup kita lebih bermakna?

 

Renungan:

Apa yang Paulus paparkan dalam perikop ini meupakan sebuah pengalaman langka dan adikodrati. Yaitu sebuah penglihatan yang tidak sembarang orang bisa mengalaminya. Itu terjadi bukan karena kehebatan faktor manusiawi melainkan atas kehendak Allah. Bentuk pengalaman itu adalah Allah mengangkatnya ke Firdaus untuk mendengar kata-kata yang tak terkatakan bahkan tidak boleh diucapkan oleh manusia (v. 2-4) Peristiwa itu terjadi empat belas tahun silam sapai pada saat Paulus mengungkapkan di bagian ini. Peristiwa itu adalah merupakan pengalaman pribadi Paulus bersama Tuhan yang dia layani, bukan tentang orang lain. Bahwa Paulus memakai kata ganti orang lain, itu adalah merupakan sikap kerendahan hati Paulus yang tidak ingin memegahkan diri karena mendapatkan pengalaman ajaib yang adikodrati itu.

Dalam rangka menjalankan tugas perutusannya Paulus sebenarnya diberikan kemampuan, kelebihan dan keahlian lebih dari kebanyakan orang lain. Dengan apa yang dia miliki itu seharusnya dia mempunyai alasan untuk bermegah. Tetapi apa yang dia ungkapkan tentang, jika ia bermegah juga, aku bukan orang yang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Pernyataan itu mengandung makna bahwa jika ia bermegah maka dia adalah orang yang bodoh, sebaliknya karena dia tidak mau bermegah atas apa yang dia miliki maka dia menunjukkan bahwa dia orang cerdas, pintar dan rendah hati. Dan yang lebih utama ketika dia tidak tergoda untuk bermegah, maka kebenaran yang menjadi pemberitaan utama dalam perutusannya justru menjadi nyata.

Hari ini jika kita merasa mempunyai banyak kemampuan, kelebihan atau keahlian, sikap yang terbaik adalah jangan sampai memegahkan diri apalagi menyombongkan diri lantas menghina, merendahkan orang lain. Jika kita memegahkan diri, selain kita memungkiri bahwa apa yang kita punyai itu adalah berasal dari Allah, tetapi yang lebih cilaka adalah kebenaran yang menjadi inti pemberitaan kita menjadi tidak nyata. Bersikaplah rendah hati jika kita mempunyai banyak kelebihan, agar kebenaran Allah menjadi nyata melalui pelayanan dan karya kita. Tuhan memberkati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

2 Comments for this entry

  • timotius says:

    Nampaknya ada kesalahan dalam mencantumkan referensi (bacaan) yang digunakan dalam artikel ini. Mengacu kepada daftar bacaan leksionari untuk Minggu, 8 Juli 2012, maka bacaan yang seharusnya adalah 2 Korintus 12:2-10, bukan Kisah Para Rasul 12:2-6.

  • admin says:

    Terima kasih atas masukannya Pak Timotius

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«