suplemenGKI.com

Ibrani 1:1-4

 

Antara Kasih dan Komunikasi

 

Mengasihi itu bukanlah sesuatu yang cukup untuk dijanjikan, melainkan haruslah dibuktikan. Hari ini kita akan bersama merenungkan bagaimana Allah mengasihi manusia, bukan sebatas janji, melainkan sudah terbukti. Dengan menyadari bukti kasih Allah ini, kita juga dapat belajar mewujudkan kasih kita dalam berbagai bentuk bukti.

- Dengan siapa Saudara berkomunikasi paling intensif belakangan ini? Apakah Saudara mengasihi orang tersebut? Mengapa?

- Pernyataan manakah dalam perikop kita yang menggambarkan besarnya kasih Allah kepada kita?

 

Renungan

Surat Ibrani ini dimulai dengan sebuah pemaparan tentang bagaimana Allah itu begitu rindu untuk berbicara dengan manusia. Kerinduan ini merupakan ungkapan kasih Allah kepada manusia. Setiap kita – secara alami – pasti berhasrat untuk menjalin komunikasi dengan orang yang dikasihi tersebut. Begitu pula sebaliknya, setiap kita – secara alami – pasti tidak berhasrat untuk menjalin komunikasi dengan orang yang kita benci. Semakin besar kasih kita, semakin kita rindu untuk menjalin komunikasi. Besarnya kasih Allah kepada manusia dapat dilihat dari beberapa poin berikut ini.

Pertama, Allah menjalin komunikasi secara terus menerus. Penulis surat Ibrani menjelaskan bahwa Allah telah berulang kali berbicara kepada manusia. Seberapa sering Allah berbicara kepada manusia dapat dilihat dari seberapa banyak nabi-nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan pesan-Nya kepada umat manusia. Dari waktu ke waktu, dengan tiada jemu Allah terus mengutus para Juru bicara-Nya. Hampir di setiap generasi, Allah menghadirkan nabi-Nya.

Kedua, Allah menjalin komunikasi secara kreatif. Allah bukan hanya secara terus menerus berusaha untuk berkomunikasi, tapi Dia juga berupaya membangun komunikasi tersebut secara kreatif. Penulis surat Ibrani memaparkan bahwa Allah telah berbicara dengan pelbagai cara. Beberapa cara yang dipakai Allah misalnya adalah penglihatan, mimpi, dan bahkan dengan berhadapan muka (FAYH).

Ketiga, Allah menjalin komunikasi dengan panjang sabar. Upaya Allah untuk menjalin komunikasi dengan manusia secara terus menerus serta secara kreatif membuktikan bahwa Allah telah menjalin komunikasi dengan panjang sabar. Allah tidak pernah putus asa dalam upaya berkomunikasi dengan manusia. Ia menyatakan kehendak-Nya sekali lagi dan sekali lagi. Pada waktu manusia tidak mau mendengarkan suara-Nya, Ia mengulangi kembali usaha-Nya itu. Dan bukan hanya mengulanginya, Allah juga memakai metoda yang berbeda. Ketika dengan metoda yang satu tidak berhasil, maka Dia memakai metoda yang lainnya.

Ketiga karakteristik tersebut di atas dapat kita terapkan juga dalam kehidupan ini. Bagaimana dengan komunikasi di dalam keluarga kita? Apakah masing-masing anggota keluarga memiliki kerinduan yang besar untuk menjalin komunikasi satu sama lain? Apakah kita berusaha secara terus menerus untuk membangun komunikasi tersebut? Beragam cara seperti apakah yang sudah kita mengupayakan agar komunikasi dalam keluarga kita terbangun? Seberapa besar daya tahan kita dalam mengupayakan komunikasi tersebut? Semuanya itu tergantung seberapa besar kasih kita kepada keluarga kita.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«