suplemenGKI.com

Mementingkan Diri Sendiri

Sejak masa jemaat yang mula-mula, sudah ada kebiasaan orang-orang percaya makan bersama-sama (Kisah para Rasul 2: 42, 46).  Kesempatan tersebut merupakan kesempatan untuk bersekutu dan saling membagi dengan mereka yang berasal dari golongan yang lebih rendah.  Tidak diragukan laigi, mereka menjadikan makanan itu puncak kegembiraan mereka dengan menjalankan perjamuan Tuhan.  Mereka menyebut makanan itu ‘perjamuan kasih’ karena penekanan utamanya adalah menunjukkan kasih kepada orang-orang lain dengan saling membagi.  Namun pada kenyataannya, terjadi banyak penyalahgunaan dalam perjamuan tersebut sehingga Paulus menegur mereka melalui suratnya yang menjadi bahan renungan kita hari ini.

  1. Ayat 18: Apa yang terjadi dalam perkumpulan mereka?
  2. Ayat 19: Bagaimana Paulus berusaha memandang masalah tersebut dari sudut pandang positif?
  3. Ayat 21: Masalah apa yang ditimbulkan oleh makanan-makanan yang biasa mereka bawa dalam perjamuan tersebut?
  4. Ayat 22: Bagaimana isi teguran Paulus?
  5. Apa yang paling menyedihkan dari munculnya semua masalah dalam perjamuan kasih tersebut?
  6. Apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang menikmati perjamuan Tuhan?

Renungan

Perjamuan kasih yang pernah menjadi bagian dalam ibadah di Korintus secara perlahan-lahan mulai diselewengkan tujuan dan penghayatannya.  Persoalan pertama yang terjadi adalah munculnya bermacam-macam kelompok kecil dalam perjamuan tersebut dan kelompok-kelompok tersebut tidak mau membaurkan diri satu dengan yang lain. Mereka hanya menikmati makanan dalam kelompoknya sendiri, bukan dengan seluruh keluarga jemaat.  Walaupun Paulus menyalahkan tindakan yang mementingkan diri sendiri, namun Paulus dapat mengambil suatu pandangan yang positif dari akibat-akibatnya.  Bagi Paulus, paling tidak Allah dapat memakai peristiwa itu untuk menguji/menunjukkan siapa saja orang percaya sejati di antara mereka itu.

Kesalahan lain yang dilakukan oleh jemaat adalah adanya orang-orang kaya yang membawa sejumlah besar makanan untuk diri sendiri, sedangkan jemaat yang miskin dibiarkan lapar.  Gagasan semula dari perjamuan kasih untuk saling membagi kasih sudah menjadi luntur.  Bahkan ada jemaat-jemaat yang malah menyalahgunakan sebagai kesempatan untuk mabuk-mabukan.  Perjamuan kasih yang seharusnya merupakan kesempatan untuk mengadakan pembinaan rohani, mengenang pengorbanan dan kasih Kristus malah dipergunakan sebagai kesempatan untuk melakukan hal-hal yang memalukan. Memandang rendah orang lain tentu saja bukan cara untuk mengingat Sang Juruselamat yang mati untuk semua orang berdosa, baik kaya maupun miskin. Karena itu betapa pentingnya kita mempersiapkan hati dengan baik apabila dating ke Meja Perjamuan Tuhan.

Segala bentuk mementingkan diri sendiri dan mengabaikan orang lain dengan alasan apa pun tidak pernah sejalan dengan semangat dan identitas kristiani.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*