suplemenGKI.com

Mazmur 29:10-11.

 

“Kemuliaan Dan Keagungan Hanya Bagi Allah 3”

Pengantar:
            Nyanyian pujian pemazmur ini ditutup dengan suatu pernyataan yang sangat sempurna, yaitu menyentuh sisi Tuhan yang tiada tertandingi kemahakuasaannya dan juga menyentuh sisi manusia yang begitu terbatas, lemah dan tak berdaya. Seolah pamazmur mempertemukan antara kemahakuasan Tuhan dengan keterbatasan manusia dalam sebuah harmoni yang mutlak dan tidak bisa dikompromikan. Apakah itu, yaitu dalam kemahakuasaan Tuhan, manusia yang terbatas, lemah dan tak berdaya dapat berpaut, bersandar dan berharap.

Pemahaman:

1)      Apakah makna dari pernyataan pujian pemazmur pada ayat 10?

2)      Dan apakah pula yang terekandung di dalam permohonan pemazmur di ayat 11?

Frasa “Tuhan bersemayam di atas air bah, Tuhan bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya” hendak menekankan dua hal, pertama: bahwa Allah yang dipercayai oleh pemazmur adalah Sang: pemilik, penguasa, pengendali dan pengatur segala gerakan kedahsyatan alam semesta. Dalam pemahaman ini, kita diingatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini semua di bawah otoritas dan kuasa Tuhan. Ke dua: bahwa Tuhan yang dipercayai oleh pemazmur adalah Tuhan yang memerintah alam semesta dan segala isinya dengan sempurna dan bersifat kekal semala-lamanya. Penghayatan demikian mengajak kita untuk meyakini bahwa di seantero muka bumi ini tidak ada Raja yang berdaulat dan berkuasa yang bersifat kekal selama-lamanya selain Allah yang kita kenal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Itu sebabnya pemazmur di ayat 11 dalam pujiannya sesungguhnya hendak menyampaikan suatu pengajaran berharga kepada umat, bahwa ketika umat merasa hidup dalam tekanan, himpitan dan belenggu dosa berserulah kepada Allah untuk memperoleh sumber kekuatan di dalam Allah yang adalah maha kuasa dan Raja di atas segala raja yang berkuasa selama-lamanya itu. Maka di sanalah ada kesejahteraan, kedamaian, pengharapan dan perlindungan. Jadi di bagian akhir pujian pemazmur itu, dapat dikatakan sebagai suatu  pengingat kepada umat tentang dua hal, yaitu pertama: umat membutuhkan kekuatan yang hanya bisa diperoleh ketika umat hidup dalam naungan Tuhan yang berkuasa. Ke dua: umat akan mengalami kesejahteraan dan kedamaian ketika umat menyandarkan pengharapannya hanya kepada Tuhan Sang Raja di atas segala raja, bukan kepada hal-hal duniawi.

Refleksi:
Di dunia ini banyak orang yang lebih suka menyandarkan hidup dan masa depannya kepada kesuksesan secara materi, karier, pangkat, kedudukan dan hal-hal yang bersifat duniawi lainya. Itu tidak salah, namun semua akan lenyap. Hanya Allah dalam Kristus yang bersifat kekal, oleh karena itu bersandarlah kepada-Nya.

Tekad:
Ya Tuhan, ampuni saya kalau selama ini saya lebih menyandarkan pengharapan saya kepada hal-hal duniawi. Ajarlah saya untuk lebih menyandarkan kehidupan ini hanya kepada-Mu.

Tindakkan:
Mulai belajar menyandarkan kehidupan hanya kepada Tuhan, bukan kepada hal-hal duniawi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«