suplemenGKI.com

Kamis, 30 Juli 2020

29/07/2020

HIDUP KUDUS DALAM PERINTAH-NYA

Imamat 19:1-2,15-18

 

Pengantar
Kata kudus sering dikaitkan dengan suci, bersih, tidak terjamah, bahkan tidak tersentuh. Bahkan, kata kudus sering disejajarkan dengan peristiwa-peristiwa ilahi yang sakral, suci, dan harus serius, tidak dapat ditawar, dan harus serius menjalankannya. Kisah pemberian perintah dari Tuhan kepada bangsa Israel menuntun kita untuk memandang dengan cara yang baru untuk melihat kekudusan. Dalam perintah Tuhan, kekudusan adalah tentang ketegasan dalam melakukan kebenaran hidup sehari-hari yang didasari oleh kasih dan dapat dipraktekkan di dalam kehidupan kita setiap hari.

Pemahaman
Ayat 1-2               : Apakah maksud dari kekudusan pada bagian ini?
Ayat 15-18           : Bagaimana cara hidup dalam kekudusan?

Imamat mengisahkan perjalanan orang-orang Israel yang disertai oleh Tuhan melalui berbagai peraturan kehidupan. Peraturan-peraturan itu membawa bangsa Israel untuk selalu ada dalam pantauan Tuhan, sekaligus mereka juga mengetahui dan menentukan batas-batas perbuatan mereka agar tidak melanggar apa yang sudah Tuhan berikan. Musa menjadi perantara antara Tuhan dengan umat-Nya untuk menjalin berkomunikasi sehingga bangsa Israel mendapatkan arahan langsung mengenai kehidupan mereka. Proses bimbingan Tuhan kepada bangsa Israel merupakan bentuk nyata dari kasih Allah kepada umat-Nya. Proses ini menunjukkan bahwa Tuhan begitu setia sekalipun banyak manusia tidak selalu menuruti apa yang dikatakan-Nya. Untuk itulah Ia menghadirkan peraturan-peraturan kehidupan agar setiap manusia mampu mengarahkan perhatian kepada-Nya dan bukan kepada dirinya sendiri.

Perintah Tuhan diawali dengan menyebutkan tujuan pendengar dari perintah tersebut, yaitu segenap bangsa Israel (ayat 1-2). Ini berarti pesan itu berlaku untuk siapa saja dan bukan golongan-golongan tertentu karena orang-orang Israel sering membedakan status kehidupan sesamanya. Pesan ini disampaikan untuk memberi pengajaran bahwa bangsa Israel harus hidup di dalam kekudusan. Kekudusan itu sendiri memiliki dua pandangan, yaitu bangsa Israel menjadi kudus karena memiliki relasi yang erat dengan Tuhan. Kedua, kekudusan itu membuat bangsa Israel harus mengusahakan segala sesuatu dalam kehidupannya supaya dapat terus memelihara relasinya dengan Tuhan.

Perintah dari Tuhan kali ini disampaikan sangat aplikatif bagi kehidupan bangsa Israel. Perintah ini bukan sekadar tentang konsep kekudusan, tetapi mencakup hal-hal yang dapat dilakukan oleh bangsa Israel sebagai petunjuk untuk mereka menjalani hidup yang kudus dan berkenan bagi Tuhan. Ayat 15 menekankan tentang pentingnya keadilan yang tidak dibalut dengan kecurangan, sebab dalam konteks kehidupan bangsa Israel orang-orang kecil sering menjadi korban dari peradilan tersebut. Selanjutnya, perintah Tuhan menekankan tentang memberi perkataan yang benar, bukan fitnah atau ancaman. Bangsa Israel juga tidak diperbolehkan untuk membenci, tetapi harus bisa memberi teguran dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa ada kepedulian yang harus dibangun di antara orang-orang Israel. Semua hal ini sangat berkaitan erat dengan cara bangsa Israel untuk menjalin relasi mereka dengan sesamanya. Mereka sering membenci dan memusuhi sesamanya, sehingga kasih Tuhan tidak dapat dirasakan. Puncak dari perintah pada bagian ini adalah tentang mengasihi sesama (ayat 18). Tuhan menginginkan bangsa pilihan-Nya untuk hidup dalam kekudusan, yang berarti hidup dalam kebenaran, tanpa kebencian, tanpa keegoisan, saling memedulikan sesama, serta saling mengasihi. Bangsa Israel diajak untuk mampu hidup dalam kekudusan lewat relasi mereka sehari-hari dengan sesama.

Refleksi
Atas dasar kasih, Tuhan menyertai kehidupan kita dan membuat hidup kita selalu berjalan pada kebenaran-Nya. Namun sebagai manusia, kita mudah menjadi orang yang egois, tidak peduli, bahkan bisa membenci sesama kita tanpa menginginkan orang tersebut mengalami perubahan. Kita terlalu memfokuskan hidup pada diri kita sendiri dan melupakan bahwa dalam kehidupan berelasi setiap hari harus ada kasih yang nyata di tengah kita. Cara mengasihi bukan hanya sekadar melalui senyuman atau perhatian, tetapi juga membangun kebiasaan yang baik untuk menuruti setiap perintah-Nya. 

Tekadku
Tuhan, biarlah aku menuruti setiap perintah-Mu karena itu adalah bukti bahwa Engkau mengasihiku.

Tindakanku
Aku ingin meningkatkan waktu merenungkan Firman-Nya agar semakin mengerti dan memahami kasih-Nya yang nyata dalam kehidupanku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«