suplemenGKI.com

SALIB : BUKTI KASIH-NYA KEPADAKU

1 Korintus 1:18-25

 

Pengantar
Dalam iman Kristen, kita tak pernah asing dengan kata “salib”. Kita sering mendengarnya melalui pemberitaan Firman Tuhan, nyanyian rohani, dan sebagainya. Kata “Salib” selalu dikaitkan dengan pengorbanan Kristus yang teramat besar bagi manusia yang seharusnya binasa karena dosa. Melalui peristiwa pengorbanan Kristus, kita diperdamaikan dengan Allah (garis vertikal) dan manusia (garis horizontal). Semua yang Allah berikan, kita dapatkan secara cuma-cuma. Namun pemahaman yang kita miliki tentang salib, berbeda dengan pola pikir orang Yahudi dan Yunani. Bagaimanakah pola pikir yang mereka miliki tentang salib?

Pemahaman

  • Ayat 22-23: Bagaimanakah orang Yahudi dan Yunani memahami tentang salib?
  • Ayat 18,24-25: Apa yang Paulus sampaikan berkaitan dengan pandangan orang Yahudi dan Yunani tentang salib?

Golongan Yahudi dan Yunani  memiliki pengaruh di jamannya. Orang Yunani terkenal dengan para filsufnya dan sudah memiliki pikiran yang sangat maju dengan mengembangkan pikiran-pikiran logis. Bagi orang Yunani, jika seseorang mempercayai Kristus yang disalib sama halnya percaya dengan seorang budak. Sebab bagi mereka, orang-orang yang pantas disalibkan adalah budak maupun penjahat. Sehingga sangat tak masuk akal jika salib adalah jalan keselamatan dari Alah. Sedangkan orang Yahudi tidak dapat menerima bahwa Yesus yang disalibkan adalah Mesias yang telah mereka nantikan. Mesias dalam pandangan mereka adalah seorang Raja, bukanlah seorang yang hina dan mati di atas kayu salib. Bahkan mereka juga membenci Yesus sehingga mereka terus menerus merencanakan dan mencari cara untuk membunuh Yesus.

Jika pandangan yang salah tentang salib dari kedua golongan ini terus menerus terjadi, maka akan semakin menggerogoti kehidupan umat Kristen di Korintus yang mulai mengalami perpecahan. Paulus dengan tegas meluruskan pandangan mereka. Bagi mereka yang telah dipanggil untuk menerima anugerah keselamatan, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah (ayat 24). Ia pun menegaskan bahwa baik orang Yahudi maupun orang Yunani tidak dapat menggunakan kemampuan berpikirnya sendiri untuk melihat hikmat Allah (ayat 25). Hikmat Allah jauh melampaui hikmat manusia, termasuk kemampuan berpikir yang dimiliki oleh orang Yahudi dan Yunani. Hal ini mengingatkan kepada kita agar senantiasa bersyukur atas anugerah penebusan melalui Yesus Kristus. Kita pun juga tidak hanya membiarkan anugerah itu berdiam dalam kehidupan saja, melainkan turut membagikannya kepada orang lain dengan kasih dan sukacita.

Refleksi
Apakah saudara pernah dihina atau dianggap remeh oleh orang lain berkaitan dengan kepercayaan kita tentang Kristus? Bagaimana respon saudara kepada mereka: berdiam diri, membela diri dengan emosi, ataukah memberikan penjelasan dengan penuh kasih?

Tekadku
Tuhan, berikanku kesabaran dan hikmat untuk membagikan cinta kasih-Mu pada sesama melalui kehidupan sehari-hari yang memuliakan nama-Mu.

Tindakanku
Hari ini aku akan berkunjung ke rumah salah seorang tetanggaku yang belum mengenal Tuhan. Aku mau menceritakan tentang pertolongan yang Tuhan nyatakan dalam hidupku, sehingga mereka turut merasakan kasih karunia Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«