suplemenGKI.com

Kamis, 30 April 2020

29/04/2020

Yohanes 10:1-10

MENJADI GEMBALA YANG BAIK

PENGANTAR
Di kawasan Timur Tengah, gembala sering menjadi kiasan bagi peran dan fungsi seorang pemimpin. Para raja dan imam sering menyebut diri mereka gembala dan menyebut rakyat atau umat mereka sebagai domba. Dalam konteks inilah Yesus menyebut diri-Nya sebagai Gembala yang Baik. Yesus menggunakan kiasan gembala sebagai bagian dari kritik-Nya terhadap orang-orang Farisi yang tidak menjalankan fungsi kepemimpinan mereka dengan baik. Alih-alih bersyukur atas kesembuhan seorang buta, mereka justru mempersoalkannya karena penyembuhan itu dilakukan Yesus di hari Sabat (Yoh. 9:13-41). Namun, perlu digarisbawahi bahwa Yesus bukan hanya mengkritik mereka. Yesus juga menyediakan diri-Nya menjadi Gembala yang Baik bagi umat-Nya.

PEMAHAMAN

  • Ay. 1-6. Suasana dan adegan apa yang digambarkan di ayat 1-5? Apa yang hendak diajarkan Yesus ketika membandingkan seorang gembala dengan seorang pencuri/ perampok? (ay. 1-2). Apa yang membuat domba-domba itu mengikuti sang gembala? (ay. 3-5). Mengapa orang-orang Farisi yang mendengarkan perumpamaan itu tidak memahami apa yang dimaksudkan-Nya? (ay. 6).
  • Ay. 7-10. Menurut Anda mengapa Yesus menempatkan diri-Nya sebagai pintu? Apa tujuan Yesus menyampaikan hal ini kepada orang-orang Farisi?

Ayat 1-5 menggambarkan adegan penggembalaan di pagi hari, ketika kawanan domba masih berada di dalam sebuah kandang yang dikelilingi oleh tembok dengan pintu yang dijaga agar tidak dimasuki oleh pencuri. Seorang pencuri dan seorang perampok akan berusaha memasukinya dengan cara yang tidak benar (ay. 1b, memanjat tembok). Namun seorang gembala akan masuk dengan cara yang benar (ay.2) karena ia mempunyai hak untuk itu (ay. 3a). Ayat-ayat 3b-5 memberikan gambaran bagaimana seorang gembala menuntun mereka keluar dari kandang dan membentuk mereka menjadi kawanan domba. Ini merupakan kiasan mengenai bagaimana terbentuknya umat Tuhan. Domba-domba itu mengikuti sang gembala karena mereka mengenal suara-Nya. Artinya, mereka mengikut sang gembala dengan “sukarela”, berdasarkan hubungan yang akrab dengan sang gembala, bukan dengan terpaksa. Ketidakpahaman orang-orang Farisi terhadap perumpamaan Yesus (ay. 6) semakin menegaskan bahwa mereka bukanlah gembala/ pemimpin yang baik.

Di ayat 7-10 Yesus mengembangkan perumpamaan tersebut dengan menempatkan diri-Nya sebagai pintu. Di padang rumput tempat domba-domba itu digembalakan terdapat wilayah yang diberi pagar (yang juga berfungsi sebagai kandang), agar domba-domba tersebut dapat menikmati rumput dengan aman. Pagar itu biasanya tidak memiliki pintu dan sang gembala menempatkan dirinya sebagai pintu. Dengan kiasan ini, Yesus menegaskan otoritas-Nya atas umat-Nya sekaligus komitmen-Nya untuk melindungi dan memelihara kehidupan mereka. Dengan cara inilah sang Gembala mewujudkan kasih-Nya kepada umat-Nya.

REFLEKSI
Kiasan gembala mengajak kita meneladani kepemimpinan Kristus yang bercirikan hubungan yang akrab dan komitmen untuk mewujudkan kasih kepada umat-Nya. Apakah ciri-ciri kepemimpinan itu juga Anda laksanakan ketika menjadi pemimpin dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan Anda?

 

TEKADKU
Tuhan, curahkankanlah kasih-Mu kepadaku agar aku mampu melaksanakan peran dan tanggung jawab kepemimpinanku dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan.

TINDAKANKU
Aku akan meminta pendapat dan saran dari orang-orang di dalam keluargaku mengenai caraku melaksanakan kepemimpinan di dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»