suplemenGKI.com

Kamis, 30 April 2015

29/04/2015

1 Yohanes 4: 7-12

SALING MENGASIHI: PROAKTIF ATAU REAKTIF?

PENGANTAR
Perintah saling mengasihi bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Ini mudah diwujudkan apabila kita hidup di antara orang-orang yang juga mengasihi kita. Namun, dalam kondisi seperti itu, perbuatan kasih yang kita lakukan sering kali hanya bersifat reaktif. Kita melakukan tindakan kasih untuk membalas kebaikan yang telah kita terima dari orang lain.Padahal, Tuhan menghendaki kita mewujudkan kasih yang proaktif, yang disertai dengan inisiatif/ prakarsa.

PEMAHAMAN
Ay. 9-10      Temukanlah dua hal yang merupakan ciri-ciri penting kasih Allah kepada kita. Temukanlah masing-masing satu hal di ayat 9 dan satu hal lainnya di ayat 10.

Ay. 11-12   Apa hubungan dua ciri-ciri kasih Allah tersebut dengan perintah untuk “saling mengasihi”? Mengapa perintah ini penting bagi mereka yang ingin melihat Allah?

Dari ayat 9 dan 10 kita dapat menemukan dua ciri-ciri penting kasih Allah kepada kita. Pertama, kasih Allah itu adalah kasih yang diwujudkan. Atau, dengan kata lain, kasih yang nyata. Allah mewujudkan kasih-Nya kepada kita dengan cara mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus agar kita hidup oleh-Nya (ay. 9). Kedua, kasih Allah adalah kasih yang proaktif. Allah mengasihi kita bukan untuk membalas kasih kita kepada-Nya. Allah sendirilah yang berprakarsa/ mengambil inisiatif untuk lebih dahulu mengasihi kita (ay. 10).

Dua ciri-ciri kasih Allah yang tersebut di atas – yaitu, kasih yang nyata dan kasih yang proaktif  – sangat erat hubungannya dengan perintah untuk saling mengasihi (lihat ay. 11). Dengan kualitas kasih yang sedemikian itulah kita harus saling mengasihi. Kita harus saling mengasihi dengan kasih yang nyata, bukan hanya bicara. Kita juga harus berlomba-lomba untuk lebih dahulu berinisiatif mengasihi orang lain, bukan menunggu orang lain mengasihi kita lebih dahulu.

Untuk masyarakat pada masa itu, terwujudnya suasana saling mengasihi di antara umat Tuhan sangatlah penting.  Pada masa itu, orang-orang berlomba-lomba untuk melihat Allah. Bahkan, beberapa di antara mereka mengaku telah melihat Allah. Karena itulah Yohanes menegaskan, “tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah” (ay. 12). Namun, jika umat Tuhan saling mengasihi maka Allah ada di dalam mereka sehingga orang-orang di sekitar mereka akan melihat Allah di dalam diri mereka. Hal ini masih berlaku untuk kehidupan orang-orang Kristen di masa kini. Orang-orang dapat melihat Allah di dalam kehidupan umat-Nya apabila umat-Nya saling mengasihi.

REFLEKSI
Selama ini, bagaimanakah cara Anda mengasihi orang lain di sekitar Anda? Anda yang lebih dahulu berinisiatif, atau Anda lebih sering melakukannya sebagai balasan atas kebaikan yang telah Anda terima darinya?

TEKADKU
Tuhan, dengan segala keterbatasanku, mampukanlah aku mengasihi orang-orang di sekitarku dengan tindakan yang nyata.

TINDAKANKU
Hari ini, aku akan menunjukkan kasih yang nyata (melakukan kebaikan melalui pemberiaan atau tindakan) kepada seseorang yang tidak dapat (atau, dengan kemungkinan yang sangat kecil) membalas perbuatan kasihkukepadanya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*