suplemenGKI.com

Yakobus 2:1-13

JANGAN MEMANDANG MUKA

 

PENGANTAR
Ungkapan, “ono rego, ono rupo” bermakna bahwa untuk mendapatkan barang yang berkualitas, seseorang harus berani membayar mahal.  Namun makna yang kurang lebih sama ada kalanya berlaku dalam relasi manusia dengan sesamanya.  Manusia memilih berelasi dengan siapa berdasarkan apa yang dilihatnya.  Benarkah sikap demikian?  Mari kita belajar  dari perikop ini. PEMAHAMAN

  • Ayat 1-3: Sikap seperti apakah yang dikritik Yakobus dan mengapa?
  • Ayat 4-7: Bagaimana Yakobus memandang sikap yang suka “memandang muka”?
  • Ayat 8-10: Apa yang mendasari pemahaman dan sikap Yakobus yang tidak setuju dengan sikap yang suka “memandang muka”?
  • Apakah dalam kehidupan sehari-hari, persoalan “memandang muka” masih terjadi?

Manusia bukanlah barang yang bisa dibedakan dan dipilih berdasarkan apa yang tampak.  Bila manusia sejak semula sudah berbeda atau unik, itu berarti berelasi dengan manusia harus tidak berdasarkan apa yang tampak.  Sikap yang membedakan manusia sesungguhnya dimulai dari apa yang dipahami tentang sesama.  Persepsi yang dibentuk oleh pengalaman, cerita, belajar dan  kejadian masa lalu umumnya membentuk pengetahuan awal yang kemudian membatasi atau tidak relasi dengan sesama.  Itu sebabnya, Yakobus dengan tegas menjelaskan pemahaman dasar sebagai jawaban atas kecenderungan sikap yang memandang muka, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu … tetapi jika kamu memandang muka,kamu berbuat dosa dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran” (ay.8, 9). Mengapa membedakan sesama dinilai berdosa?  Sebab dengan membedakan manusia berdasarkan apa yang  tampak sama dengan tidak mengasihi manusia sebagai ciptaan Allah.  Itu berarti melanggar “seluruh hukum” (ay.10) atau “menjadi pelanggar hukum juga” (ay.11).  Bahkan Yakobus mengajak orang percaya untuk mengembangkan “belas kasihan” (ay.13) daripada “penghakiman”.

Belas kasih merupakan wujud dari kasih itu sendiri.  Dengan kata lain, seseorang yang mengaku mengasihi Tuhan, harusnya mempunyai belas kasih yang dikembangkan bukan hanya konsep tapi juga sampai tingkat lapangan.  Sebab bukti kebenaran kasih kepada Tuhan tampak dari bagaimana seseorang berelasi dengan sesamanya.  Bukan sekadar pengakuan tapi tindakan nyata yang dirasakan sebagai penerimaan diri oleh sesama.  Tanpa syarat dan apa adanya sebagaimana Tuhan sudah melakukan hal yang sama kepada manusia.  Ajakan yang sama juga berlaku bagi kita yang hidup di masa kini.  Panggilan untuk tidak memandang muka sebagai dasar penerimaan hendaknya didasarkan oleh pengalaman dikasihi tanpa syarat oleh Tuhan.   Kiranya panggilan ini tetap menjadi bagian hidup kita, sehingga kita bisa menerima dan mengasihi sesama dengan tulus, dalam kata dan perbuatan kita.

REFLEKSI                                                                          
Mari merenungkan: Tuhan memanggil kita untuk tidak memandang muka yang didasarkan pada pengalaman bahwa Dia mengasihi kita tanpa syarat oleh Tuhan.  Mari mengasihi sesama dengan apa adanya!

TEKADKU
Tuhan tolong aku agar mampu mengasihi sesama sebagaimana Engkau sudah mengasihiku.

TINDAKANKU
Aku mau mewujudkan tekadku dengan cara menerima dan mengasihi rekan-rekan di …. (tetangga, tempat kerja, gereja, dll) dengan apa adanya, dalam perkataan maupun perbuatan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*