suplemenGKI.com

Bagian ini merupakan kelanjutan dari pembahasan kita kemarin. Kalau kemarin kita diajak untuk tidak memandang muka hanya karena perbedaan status sosial antara yang kaya dan miskin, maka pada hari ini kita akan dibawa pada pemahaman yang lebih dalam lagi tentang keutuhan melakukan hukum Tuhan dalam arti tidak ada salah satu hukum Tuhan yang menempati posisi prioritas untuk ditaati dan ada yang bukan menjadi prioritas untuk ditaati, semua harus menjadi prioritas utama dalam mentaatinya.

 

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

1.      Menurut pendapat saudara apa maksud pernyataan penulis “Ia yang mengatakan jangan berzinah, Ia juga yang mengatakan jangan membunuh” di ayat.11?

2.      Apa maksud “Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang” di ayat 12?

3.      Apa maksud “Penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tak berbelas kasihan akan tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman” di ayat 13?

 

Renungan:

            Terkadang manusia bukan saja suka membeda-bedakan memperlakukan sesorang berdasarkan status sosial, tetapi juga membeda-bedakan dalam hal menilai perintah Allah khususnya ketika berhadapan dengan fakta pelanggaran terhadap sepuluh perintah Allah. Di ayat. 10 sudah ditegaskan bahwa seandainya seseorang berhasil melakukan seluruh hukum (sebagian besar) tetapi melalaikan satu saja maka ia telah bersalah terhadap semuanya karena tuntutan Allah adalah sempurna (band Matius 5:48) Terkait dengan konsep tersebut maka pernyataan “Ia yang mengatakan jangan berzinah Ia juga yang mengatakan jangan membunuh…” itu hendak menegaskan bahwa Allah yang sama menghendaki agar semua perintahNya harus dilihat dengan pandangan yang sama, dengan demikian ketika kita melakukan satu perintah maka tidak ada peluang untuk melanggar perintah yang lain.

            Ketika kita berpikir ada perintah yang menjadi prioritas dan ada yang tidak menjadi prioritas maka secara tidak langsung kita berpikir bahwa dalam penghakiman pun ada pembedaan berdasarkan kasus berat ringan suatu pelanggaran terhadap perintah Tuhan. Konsep itu sangat berbahaya, karena menyamakan dengan model penghakiman dunia. Tetapi tidak demikian dengan penghakiman Tuhan, penghakiman yang memerdekakan. Dikatakan penghakiman yang memerdekakan karena bukan didasari atas siapa yang dihakimi dan bukan juga dilihat dari sisi pelanggaran apa yang dilakukannya, melainkan berdasarkan pada  hasil yang akan dialami oleh yang dihakimi yaitu akan membawanya pada perubahan dan iman yang benar kepada Allah. Itu sebabnya dikatakan hukum yang memerdekakan dalam istilah lain memenangkan dari pelanggaran.

            Ayat. 13 merupakan penegasan mengenai hukum yang memerdekakan, sebab yang ditonjolkan dalam hukum yang memerdekakan adalah belas kasihan Allah. Sebenarnya hidup kita ini penuh dengan belas kasihan. Bila kita bandingkan dengan pelanggaran kita terhadap hukum Allah jika bukan karena belas kasihan Allah maka tidak mungkin kita bebas dari hukuman yang akan dijatuhkan Allah kepada kita.

            Saudara, betapa kita harus bersyukur dan bersujud kepada Tuhan yang telah dan selalu menganugerahkan belaskasihanNya kepada kita, belaskasihan Tuhan kepada kita itu melampaui segala pelanggaran kita, melampaui segala kegagalan kita dan melampaui segala ketidaksempurnaan kita di dalam melakukan perintahNya. Mari kita terus bersujud kepadaNya karena Dia telah berbelaskasihan kepada kita.  

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*