suplemenGKI.com

Kamis, 3 Maret 2016

02/03/2016

SUKACITA ORANG YANG JUJUR DI HADAPAN ALLAH

Mazmur 32:8-11

 

Pengantar
Dalam renungan kemarin kita telah belajar dari pengalaman Pemazmur tentang hidup jujur di hadapan Allah. Termasuk dalam hal pengakuan dosa. Dalam bagian ini kita akan melihat dan mempelajari bahwa Pemazmur ingin membagikan pengalaman kejujuran yang ia miliki kepada para pembacanya dan sukacita yang didapat ketika manusia mau hidup jujur kepada Allah.

Pemahaman

  • Ayat 8-9         : Nasehat apakah yang diberikan oleh Pemazmur bagi para pembaca termasuk kita orang percaya?
  • Ayat 10-11    : Sukacita apakah yang dimiliki oleh orang yang mau jujur di hadapan Allah?

Pemazmur ingin membagikan pengalamannya dan mengajarkan kepada sesama tentang kejujuran di hadapan Tuhan ( ayat 8-9 ). Bagi Pemazmur, kegagalan yang diakui dan dipulihkan merupakan pengalaman yang memperkaya kehidupan, seperti yang tertulis dalam ayat 9: “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau”.

Pemazmur mengajarkan kepada kita untuk membagikan pengalaman jujur di hadapan TUHAN dan sukacita sebagai orang yang telah menerima pengampunan. Berbagi pengalaman akan hal itu akan mendorong orang lain untuk juga berani jujur di hadapan TUHAN sebab tidak ada seorang pun boleh mengeraskan hatinya ketika Tuhan sedang mengajar dan mendidiknya. Semua orang yang berani jujur di hadapan TUHAN akan merasakan kasih dan pengampunan dari TUHAN.

Dalam dua ayat terakhir, yaitu ayat 10 dan 11, Pemazmur mengatakan bahwa orang percaya yang mau jujur dihadapan Tuhan akan dikelilingi oleh kasih setiaTuhan ( ayat 10b ), sedangkan orang fasik justru mengalami hal yang sebaliknya. Orang fasik mengalami kesakitan bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental mereka( ayat 10 a ). Kesakitan yang dialami oleh orang fasik terjadi karena ulah mereka yang menipu diri sendiri. Di bagian terakhir ( ayat 11 ) Pemazmur mengajak orang-orang jujur untuk bersukacita dan bersorak-sorai bagi Tuhan. Orang jujur bukan hanya mendapatkan sukacita tetapi juga damai sejahtera yang melimpah.

Refleksi
Dalam keheningan ingat-ingatlah apakah Saudara pernah berbagi sukacita kepada orang lain tentang kebahagiaan atas kasih dan pengampunan yang Tuhan berikan pada saat Saudara jujur di hadapan Tuhan? Apakah Saudara terpanggil untuk membawa semua orang berani jujur di hadapan TUHAN ?

Tekadku
Tuhan, mampukanlah aku untuk bersaksi kepada orang lain tentang betapa bahagia dan sukacitanya hidup dalam kejujuran.

Tindakanku
Hari ini aku akan mendatangi salah satu keluargaku atau temanku yang hidupnya tidak jujur terhadap sesame dan Tuhan. Dengan tulus hati aku akan mengajak mereka untuk kembali pada Tuhan dan mau berkata yang benar dalam seluruh aspek hidupnya. Aku akan mengajak mereka bernyanyi NKB 130 bait  1:

Hidup yang jujur hendakku serah pada Yesusku yang aku sembah.
Persekutuan mesra dan kudus, ingin ku ikat dengan Penebus.

Refrein:
Ya Yesus, Kau kurbankan darah-Mu bagiku;
ku bri masa depanku dan hidup bagi Mu.

Hatiku kuserahkan menjadi takhtaMu.
Ku minta, kuasailah seluruh hidupku.”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«