suplemenGKI.com

Mazmur 25:1-9

 

“Ke manakah engkau pergi ketika dipermalukan?”

Pengantar:
            Ada seorang anak usia dua belas tahun, ketika sedang bermain kelereng dengan teman-temannya, dia selalu berada pada posisi kalah sehingga dia sering dipermalukan oleh teman-temannya. Awalnya dia bisa menahan diri, namun karena terus-menerus dipermalukan, anak tersebut tidak tahan, dia pulang dan menangis. Sejak saat itu dia tidak pernah lagi mau bermain bersama- teman-temannya, bahkan dia menutup diri dan tidak mau keluar rumah walau hanya sekedar untuk berjumpa dengan teman-temannya. Hari ini kita melihat bagaimana sikap pemazmur ketika dia dipermalukan.

Pemahaman:

1)      Apakah yang menjadi latar belakang dari doa Daud dalam mazmur 25 ini?

2)      Apa yang dilakukan Daud ketika ia merasa berdosa dan dipermalukan? (v. 1-5)

3)      Apa yang menjadi alasan Daud ketika dipermalukan, dia datang kepada Tuhan! (v. 6-9)

Doa Daud dalam Mazmur 25 ini dilatarbelakangi oleh perasaan: kecewa, sedih, merasa berdosa dan malu yang dialami oleh pemazmur. Daud sangat dipermalukan oleh orang-orang yang sebetulnya sangat dekat dengannya, pertama: Husai adalah sahabat Daud, tetapi ketika Daud terpuruk dia meninggalkannya dan bersekutu dengan Absalom anak Daud yang berambisi menggulingkan takhta Daud ayahnya sendiri. Ke dua: Absalom, ia adalah anak kandung Daud, namun dia mempermalukan ayahnya dengan perbuatan yang sangat memalukan, yaitu menghampiri (baca: berzinah) gundik-gundik Daud ayahnya sendiri di depan mata seluruh Israel (2Sam 16:15-23). Sebuah tindakkan yang sangat jahat dan mempermalukan Daud yang saat itu adalah raja terhormat. Sebagai manusia Daud merasa kecewa, sedih, marah, sakit hati, malu, merasa berdosa dan tertekan. Namun Daud menyadari bahwa semua itu terjadi, adalah karena dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Di tengah kondisi demikian Daud berseru dan mengadu kepada Tuhan, dia semakin mau belajar dari Tuhan agar dituntun jalan hidupnya. Mengapa Daud melakukan hal itu? Karena Daud memahami betul bahwa Tuhan itu baik, benar sehingga tetap mau membimbing, menerima dan mengajarnya tentang kasih dan pengampunan (v. 8-9)

Refleksi:
Marilah kita merenungkan. Pernahkah saudara dipermalukan oleh orang yang dekat dengan saudara? Apa yang saudara lakukan? Mungkin tergoda untuk membalas dan sebagainya. Jangan lakukan pembalasan, tetapi berserulah kepada Tuhan, Dialah yang akan mengobati rasa malu itu.

Tekad:
Tuhan, terkadang saya tidak kuat menghadapi perlakuan terhadap saya, sehingga tergoda untuk membalas, tolonglah agar saya lebih memilih untuk datang berseru dan berdoa kepada Engkau.

Tindakan:
Ketika dipermalukan, saya akan semakin setia menyediakan hidup dan seluruh kemampuan saya untuk melayani Tuhan lebih baik lagi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*