suplemenGKI.com

Kamis, 28 Juli 2016

27/07/2016

Mengutamakan “Perkara yang di atas”

Kolose 3:1-4

 

Pengantar
Ada seorang pemuda yang merantau ke kota besar untuk mencari pekerjaan. Hidupnya berubah total ketika ia mendapatkan sebuah pekerjaan dengan gaji yang menjanjikan. Kehidupan yang mulanya penuh dengan penderitaan, seketika lenyap menjadi sukacita. Ia memiliki banyak rekan kerja. Suatu ketika ia diajak bersenang-senang oleh teman-temannya. Ia bingung karena harus menentukan sikap apakah mengiyakan ajakan temannya atau tidak. Jika mengiyakan, maka ia tak punya waktu untuk beribadah. Tetapi jika tidak mengiyakan, ia akan merasa suntuk mengingat ada banyak tugas yang harus diselesaikannya. Pernahkah Saudara mengalami hal serupa? Manakah yang harus dipilih: dengan  beribadah di gereja ataukah memilih kesenangan duniawi bersama teman-teman?  Mana yang menjadi prioritas hidup ini ? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 2             : Apa maksud dari perkataan “pikirkanlah perkara yang di atas” ?
  • Ayat 1, 3, 4    : Mengapa kita harus “memikirkan perkara yang di atas”?

Kolose 3:1-4 didahului dengan kata “karena” pada ayat pertama. Kata “karena” berhubungan dengan ayat-ayat sebelumnya yang mengingatkan jemaat Kolose agar mereka  mengendalikan diri dari segala rupa-rupa duniawi karena Kristus telah menebus hidupnya. Rasul Paulus hendak mengingatkan bahwa seorang yang telah ditebus dan diselamatkan, memiliki identitas sebagai warga Kerajaan Allah.  Identitas sebagai warga Kerajaan Allah mengharuskan setiap orang percaya untuk mengubah pikiran dan kehendaknya. Oleh sebab itu Paulus menasihatkan kepada setiap orang percaya untuk mencari dan memikirkan perkara yang di atas, bukan perkara yang di bumi ( v. 1-2 ). Perkara yang di atas atau perkara rohani merupakan dasar bagi manusia untuk menjalani kehidupannya di muka bumi ini. Tanpa dasar yang kuat, manusia akan rapuh. Perkara dunia bukanlah akhir dari tujuan hidup, karena perkara dunia dapat lenyap seketika.

Nasihat “pikirkanlah perkara yang di atas” sesungguhnya mengajak kita untuk hidup mengutamakan Tuhan dalam berbagai  aspek kehidupan setiap hari. Kita perlu memikirkan perkara yang di atas karena kita disatukan oleh Kristus melalui kematian-Nya ( v. 3 ) dan dibangkitkan  pula bersama dengan Kristus ( v. 1 ). Jadi Kristus selalu bersama kita. Maka sudah selayaknya kita memprioritaskan/mengutamakan Tuhan dalam hidup ini. Orang yang berani memikirkan “perkara yang di atas” dengan mengutamakan Tuhan maka ia tidak hidup bagi dirinya sendiri, melainkan hidup untuk Tuhan, berjalan dalam kebenaran Firman Tuhan.

Refleksi
Ingatlah kembali berbagai kesibukan dan perencanaan hidup Saudara. Berapa banyak waktu yang Saudara pakai untuk memikirkan perkara duniawi bila dibandingkan dengan waktu untuk memperjuangkan hidup dalam kebenaran Firman Tuhan ? Apakah ada perkara duniawi yang telah menjauhkan diri Saudara dari Tuhan? Apakah Saudara rindu mengutamakan Tuhan sebagai fondasi kehidupan ini?

Tekad
Ya Tuhan, mampukankah aku untuk mengubah pikiran dan kehendakku agar selalu mengutamakan Engkau dalam hidupku.

Tindakan
Aku akan menyediakan waktu untuk mengutamakan Tuhan dengan menjalin persekutuan pribadi denganNya serta mengingat dan melakukan minimal satu pesan Firman Tuhan setiap hari.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»