suplemenGKI.com

Kamis, 28 Juli 2011

27/07/2011

Pengorbanan karena Cinta

Roma 9:1-5

Kata orang cinta itu membutuhkan pengorbanan. Banyak kisah yang mendukung pernyataan tersebut. Dalam perenungan kita hari ini, kita akan merenungkan tentang bagaimana hal yang serupa juga terjadi secara rohani.

-  Pernahkah Saudara mengalami kesedihan yang mendalam? Apakah yang menyebabkan kesedihan tersebut?

-  Mengapa rasul Paulus mengatakan, “aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (ay. 3)? Coba bandingkan dengan pernyataannya dalam Roma 8:35, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” pernyataan ini bahkan diulang dalam ayatnya yang ke 38-39, “Sebab aku yakin … tidak akan [ada yang] dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” 

Renungan

Membaca surat Roma pasal 9, kita langsung berhadapan dengan kesedihan rasul Paulus. Sebab, segera setelah menegaskan bahwa dirinya tidak berdusta, rasul Paulus langsung menyatakan kesedihannya. “Aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati” demikian pengakuannya. Dalam Terjemahan Lama dikatakan, “aku sangat duka cita dan susah yang tiada berkeputusan di dalam hatiku.”. Dukacita itu sedemikian rupa hebatnya sehingga menimbulkan penderitaan, seperti yang tergambar dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari, “Saya sangat sedih dan hati saya menderita”.

Mengapa Paulus sedemikian sedihnya? Dari konteksnya kita mengetahui bahwa kesedihan itu terkait dengan sikap bangsa Israel yang menolak menerima Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan itu. Jadi yang diratapi oleh rasul Paulus adalah keselamatan bangsanya. Demi keselamatan bangsanya ini, Paulus rela terkutuk dan terpisah dari Kristus. Sekilas pernyataan Paulus di ayat 3 ini kontradiktif bila dibandingkan dengan pernyataan sebelumnya, di mana ia mengatakan bahwa tidak ada seorangpun atau sesuatupun yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Kristus (Ro. 8:35, 38-39). Lalu, mengapa Paulus mengatakan hal yang tidak mungkin ini? Apakah itu hanya semacam ucapan basa-basi?

Nampaknya pernyataan Paulus ini berakar pada kisah Perjanjian Lama, di mana Musa pernah mengatakan, “Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu—dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis” (Kel. 32:32). Jika demikian, maka kita melihat bagaimana ungkapan tersebut menyatakan sebuah komitmen yang besar. Baik Paulus maupun Musa rela mengorbankan diri demi keselamatan orang yang dikasihinya. Kepedihan Paulus ini makin memilukan kalau kita melihat bahwa sebenarnya bangsa Israel begitu dekat dengan keselamatan. Mereka adalah umat pilihan yang telah diangkat menjadi anak, dan telah menerima kemuliaan, perjanjian-perjanjian, bahkan keselamatan mereka itupun datang melalui mereka.

Pernahkah kita memiliki kerinduan Paulus, yaitu merindukan agar seseorang mengalami pertobatan atau dapat menerima keselamatan? Apakah kita pernah menangis untuk pertobatan atau keselamatan orang-orang yang kita kasihi, seperti pasangan kita, anak atau orangtua kita? Apakah kita juga memiliki komitmen seperti Musa dan Paulus agar kerinduan itu tercapai?

 =====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«