suplemenGKI.com

DAMAI PALSU

Galatia 4:1-3; 8-10

 

PENGANTAR
Ibarat gelembung sabun yang di awal menarik perhatian karena bentuk dan warnanya, namun tiba-tiba pecah dan hilang begitu dipegang, demikianlah damai yang palsu itu.  Tidak bertahan lama dan sia-sia saja. Mengapa bisa demikian? Mari kita baca dan pelajari!

PEMAHAMAN

  • Ayat 8-10        : Setiap orang percaya adalah ahli waris-Nya.  Maka hidup orang percaya harus berpaut dan berpusat kepada-Nya bukan kepada hal-hal yang lain.  Bagaimana rasul Paulus menjelaskan bagian ini?
  • Ayat 9b           : Sikap seperti apa yang ditentang Paulus?
  • Pernahkah saudara mengejar sesuatu yang ternyata adalah hal-hal yang sia-sia?

Setiap manusia pasti menginginkan hal terbaik terjadi dalam hidupnya;  salah satunya adalah kecukupan atas segala kebutuhannya.  Sebab tanpa kecukupan, ketenangan atau kedamaian hidup juga tidak akan dialami.  Wajar bila manusia kemudian berupaya semaksimal mungkin meraih dan mempertahankan “kecukupan” demi tercapainya kedamaian.  Beragam cara ditempuh, mulai yang lurus sampai cara-cara yang tidak benar.  Hal-hal ini dilakukan didorong oleh asumsi bahwa semakin besar “kecukupan” yang didapat, semakin besar pula ketenangan atau kedamaian itu dialami.  Proses ini terus berjalan sampai kemudian manusia menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini sia-sia saja.  Ibarat gelembung sabun yang hanya mempesona di awal, lalu tiba-tiba pecah dan hilang.  Demikianlah upaya manusia  mencari damai melalui hal-hal yang fana.  Alih-alih manusia ingin menjadi tuan atas segala kecukupan, tetapi sesungguhnya dirinya menjadi hamba dari kecukupan itu (ay.2, 3).  Sikap hidup yang memperhambakan diri pada apa yang “hakekatnya bukan Allah” (ay.8).

Paulus dengan tegas mengkritik dan menolak pilihan hidup yang justru “berbalik lagi pada roh-roh dunia yang lemah dan miskin” (ay.9).  Kebahagiaan dan kedamaian diri yang dicapai dengan jalan “memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun” (ay.10).  Sikap hidup yang menghasilkan kesia-siaan (ay.10).  Sebab “yang bukan Allah” tidak bisa memberikan kedamaian.  Seiring dengan berkurangnya kecukupan, maka berkurang pulalah rasa bahagia atau damai itu.  Damai yang semacam ini palsu adanya.  Sebab tidak berpusat pada karya Allah.  Paulus menasihatkan jemaatnya untuk tetap berpaut kepada Allah, sumber segala berkat dan kedamaian hidup.  Allah yang mengubahkan hidup agar kita dapat menikmati kedamaian yang abadi.  Damai yang dari Allah sendiri, sebab kita adalah anak dan ahli waris-Nya.

REFLEKSI
Mari merenungkan: sudahkah hidup kita hanya berpaut dan berpusat pada Allah, bukan pada yang lain?  Hanya hidup berpaut dan berpusat pada Allah yang bisa merasakan kedamaian.

TEKADKU
Tuhan Yesus mampukan aku tetap berpaut dan berpusat hanya kepadaMu, Sang Sumber Damai, bukan kepada allah-allah lain.

TINDAKANKU
Aku mau hidup berpaut dan berpusat pada Allah saja dengan tidak lagi mengandalkan ………… (adakah allah-allah lain yang masih menjadi andalan?), sehingga kedamaian hidup dapat aku rasakan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«