suplemenGKI.com

Ketika hidup mengalami tekanan

Mazmur 43 

Kadang dalam menjalani kehidupan ini kita dapat merasa tertekan, sendirian, bahkan merasa terbuang dari kehidupan ini sehingga tidak memiliki pengharapan lagi. Lalu, bagaimana sikap kita pada waktu berada dalam situasi yang menyesakkan itu? Mari kita meneladani sikap Pemazmur dalam pasa 43:1-5 ini.

-   Apa kesan Saudara ketika membandingkan Mazmur 43:5 dengan Mazmur 42:6, 12?

-  Pernahkah Saudara merasa tertekan? Langkah atau tindakan apa yang Saudara ambil untuk mengatasi perasaan tertekan itu? 

Renungan:

Banyak ahli kitab yang menganggap Mazmur 43 ini merupakan satu kesatuan dengan Mazmur 42. Nampaknya Lembaga Alkitab Indonesia juga mengikuti pandangan ini sehingga tidak memisahkan kedua mazmur ini. Salah satu dasar dari pemikiran ini adalah terdapat persamaan antara Mazmur 43:5 dengan Mazmur 42:6, 12. Persamaan ini seakan membentuk refrain. Dan bila demikian halnya, maka mazmur 43:1-5 ini merupakan bait ketiga, sedangkan mazmur 42:7-12 adalah bait yang kedua, dan mazmur 42:1-6 adalah bait yang pertama.

Melalui ayat 1 kita memperoleh gambaran bahwa sebenarnya Pemazmur sedang mengalami kegundahan karena diperlakukan tidak adil oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, mereka telah menipu Pemazmur serta berbuat curang. Hal ini tidak mengherankan karena meeka adalah orang yang tidak saleh, oleh sebab itu mereka memiliki pola hidup yang tidak kudus pula. Dalam keadaan yang demikian Pemazmur merasa dibuang oleh Allah. Akan tetapi perasaan tersebut tidak membuat Pemazmur sakit hati kepada Tuhan, apalagi meninggalkan Tuhan, tapi sebaliknya, dia malah datang kepada Tuhan dan mencari pertolongan-Nya. Pemazmur memohon kepada Tuhan agar mengirim terang-Nya yang akan membimbingnya ke gunung Allah yang kudus dan tempat kediaman Allah. Hal ini mengingatkan kita pada pengalaman bangsa Israel yang sedang berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun dengan dibimbing oleh tiang awan dan tiang api. Melalui bimbingan tiang awan dan tiang api itu mereka akhirnya tidak tersesat. Kalaupun mereka harus menghabiskan waktu selama empat puluh tahun berkeliling di padang gurun, itu bukan karena tersesat, melainkan karena ada rencana dan kehendak Tuhan di dalamnya. Keberadaan tiang awan dan tiang api itu bukan hanya memberikan arah yang tak pernah salah, tapi juga memberikan perlindungan dari marabahaya. Tiang awan itu telah menaungi bangsa Israel dari teriknya sengatan sinar matahari di bumi yang dapat membuat manusia pingsan atau dehidrasi. Sedangkan tiang api dapat melindungi bangsa Israel dari dinginnya udara malam hari yang sangat mencengkeram. Daerah padang gurun terkenal dengan perbedaan suhu yang sangat tajam. Kalau siang panas sekali, sedangkan kalau malam dingin sekali. Nah, keberadaan tiang api itu jelas memberikan kehangatan yang memadai sehingga bangsa Israel tidak hidup dalam dua suhu yang sangat berbeda secara ekstrim tersebut, sehingga pada akhirnya dapat tiba dengan selamat di tempat tujuan. Ketika Pemazmur akhirnya mendapat bimbingan dari Tuhan sehingga dapat datang kepada-Nya, maka ia akan menghadap Tuhan dengan penuh sukacita, membawa korban syukur kepada-Nya, serta memuji-muji Allah dengan alat musik. Dengan kacamata imannya Pemazmur melihat bahwa pengharapan ini pasti akan terjadi, sehingga ia tidak perlu meragukan pertolongan Allah. Oleh sebab itu ia tidak perlu tertekan. Sebaliknya, Pemazmur menyemangati dirinya untuk terus berharap kepada Tuhan. Ketika hidup mengalami tekanan, berharaplah kepada Tuhan

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«