suplemenGKI.com

MENSYUKURI PANGGILAN

I Samuel 1:22, 27, 28; 2:18-21

 

PENGANTAR
Bila kita diminta memilih antara “perbuatan” atau “perkataan” , manakah yang akan kita pilih sebagai bukti seseorang telah melakukan sesuatu atau tidak?  Jawabannya pasti “perbuatan” sebab secara nyata bisa dilihat, diukur dan dibandingkan dengan “perkataan”.  Demikian juga “syukur” menjadi lebih mudah dinilai melalui “perbuatan”.  Hal inilah yang dilakukan Hana atas Samuel, anaknya. Mari kita baca dan pelajari!

PEMAHAMAN

  • I Sam 2:19: Apa yang secara rutin Hana lakukan  untuk Samuel?
  • I Sam 2:21: Apa yang berkat yang Hana terima selanjutnya?
  • Bagaimana cara kita mensyukuri panggilan Allah dalam hidup kita?

Hana menerima Samuel bukan hanya sebagai “anak” tapi juga “anugrah” terbesar dari TUHAN.  Alasannya, Hana pernah mengalami pergumulan yang tidak mudah di tengah konteks masyarakat yang memandang rendah wanita hanya karena ia belum memiliki keturunan.  TUHAN mendengar dan menjawab pergumulan Hana dengan memberikan Samuel.  Hana menerimanya dengan penuh ucapan syukur.  Minimal ada tiga bukti yang menunjukkan Hana mensyukuri panggilan dirinya sebagai ibu bagi Samuel.  Pertama, Hana menyediakan yang terbaik, yaitu asupan yang Samuel butuhkan di masa pertumbuhannya, “nanti apabila anak itu cerai susu” (ayat 22, 23).  Hana melakukannya juga untuk mempersiapkan Samuel “menghadap ke hadirat TUHAN”.  Artinya, pemberian yang terbaik Hana dimaksudkan juga untuk mendukung (kelak) pelayanan Samuel.

Kedua, Hana mempersembahkan yang terbaik, yaitu kehidupan ibadah yang berkenan kepada TUHAN.  Hana adalah pribadi yang mempersembahkan hidupnya bagi TUHAN, terlepas dari segala berkat yang sudah atau belum diberikan TUHAN;  dan Hana mempersembahkan ulang yang terbaik itu bagi TUHAN, “Akupun menyerahkannya kepada TUHAN” (ayat 28). Hana memahami panggilan Samuel sebagai persembahan sulung bagi TUHAN.  Ketiga, Hana memberikan pendampingan yang terbaik, yaitu dengan tetap memberikan kasih sesuai kebutuhan pada masa pertumbuhan Samuel (2:19).  Hana memberikan kasih dan perhatiannya kepada Samuel tiap kali ke Bait Allah.  Tindakan kasih Hana inilah yang menjadi kunci kekuatan Samuel, meskipun sejak kecil ia tinggal di lingkungan yang tidak baik (2:12).  Kasih dan perhatian Hana, terbukti turut menjaga panggilan dalam diri Samuel.

Bagaimana dengan kehidupan kita?  Bukankah setiap karya Allah dalam kehidupan merupakan cara yang Ia pilih untuk menegaskan panggilan unik dalam diri setiap kita?  Keluarga, pekerjaan, pelayanan, membesarkan anak dan lain-lain merupakan wujud panggilan unik Allah melalui kita.  Persoalannya, apakah kita punya semangat dan keinginan mewujudkan syukur sebagai cara kita memelihara panggilan Allah? Mari kita meneladani sikap Hana yang mensyukuri panggilan hidupnya melalui pemberian yang terbaik. 

REFLEKSI
Mari merenungkan: Setiap karya baik Allah dalam hidup merupakan bentuk panggilan-Nya dalam diri kita.  Mari kita terus mensyukurinya dengan cara memberikan & melakukan segala sesuatu yang terbaik bagi Allah dan sesama. 

TEKADKU
TUHAN, aku berterimakasih untuk setiap cara yang Engkau pakai memanggilku.  Tolong aku untuk selalu mensyukuri panggilan-Mu dengan tetap memberikan yang terbaik. 

TINDAKANKU
Aku mau mensyukuri panggilanku sebagai ………. (karyawan, pemilik usaha, ibu rumah tangga, pelayan Tuhan) dengan cara mengerjakan setiap tanggung jawabku dengan usaha yang sunguh-sungguh dan dengan cara yang terbaik.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«